mEry’S bLo9

Archive for the ‘pendidikan informal’ Category

Dari dulu kita hanya mengenal sisitem pendidikan itu ada 2 macam:

1. Pendidikan Formal

2. Pendidikan Informal

PENDIDIKAN FORMAL

Saya rasa sudah banyak yang paham apa itu definisi dari pendidikan formal. Contohnya SD sederajat, SMP sederjat, SMU sederajat, PT sederajat.

PENDIDIKAN INFORMAL

Idem dito, sudah banyak yang paham apa itu definisi dari pendidikan informal. Contohnya Kursus komputer, kursus akuntansi, kursus kecantikan dll.

Ternyata, masih ada satu lagi sistem pendidikan yang lain, yaitu PENDIDIKAN JALANAN (street education). Pendidikan jalanan ini yang belum terdefinisikan oleh pemerintah (… mungkin …) tapi yang jelas sisitem pendidikan ini sudah ada sejak manusia purba. Sebagai bukti bahawa pendidikan jalanan ada sejak dulu, ya diri kita sendiri ini. Karena pada masa itu masih berlaku hukum rimba, “siapa yang kuat maka dia yang menang” untuk mendapat gambaran jelas bagaimana pada masa itu, kita bisa melihat pada tayangan film “JURRASIC PARK”.

Dan, kalau dilihat pada konteks kekinian ternyata Alumnus PENDIDIKAN JALANAN pun akan tampak lebih unggul dalam hal kemapanan ekonomi, jika di bandingkan dengan dua sistem pendidikan yang lain. Apakah ini terjadi secara kebetulan atau memang sudah menjadi hukum alam.

KLASIFIKASI SISTEM PENDIDIKAN DAN KARIER

Sistem pendidikan formal ———– profesional, puncak kariernya pimpinan dilingkungan kerjanya.

Sistem pendidikan Informal ———– Pekerja lepas, spesialis suatu bidang tertentu.

Sistem Pendidikan Jalanan ———– Usahawan, puncak kariernya owner dari perusahaan holding.

Beberapa waktu ini sering terbersit di benak, apa yang telah diberikan pendidikan nasional kita untuk perkembangan musik. Selalu pecinta musik menimbang, apakah pendidikan musik di sekolah-sekolah sudah menumbuhkan kecintaan siswa terhadap musik?
Apabila pertanyaan tersebut muncul, dengan sangat menyesal jawaban yang kerap muncul adalah ‘belum’. Pendidikan musik di sekolah belum mampu mendorong seorang siswa untuk mencintai musik.
Rasanya berbeda sekali dengan pendidikan mata pelajaran lainnya. Banyak siswa jatuh cinta pada matematika ataupun antropologi karena bersinggungan dengan mata pelajaran tersebut di sekolah. Dan kurikulum pelajaran tersebut menjawab minat dan keingintahuan siswa akan pelajaran tersebut.
Namun tampaknya minat besar seorang anak di bidang musik belum mampu dijawab dengan memuaskan oleh kurikulum musik sekolah umum saat ini. Pendidikan musik di sekolah terasa belum penting karena memang belum menggali potensi anak didik.
Lebih banyak orang berpikir menjadi seorang fisikawan karena terinspirasi mata pelajaran sekolah, bukan oleh suatu institusi riset fisika ataupun tokoh fisika yang bersinggungan dengan hidup mereka.
Bila dibandingkan dengan musik, jarang inspirasi jadi musisi muncul karena mata pelajaran musik di sekolah. Mereka lebih banyak yang terinspirasi oleh band-band yang mereka temui, ataupun karena mereka tergabung dalam suatu ekstrakurikuler tertentu di sekolah, bukan karena pelajaran seni musik intrakurikuler di sekolah.
Pendidikan musik belum diproyeksikan menjadi sesuatu yang penting, sehingga sering terlupakan. Karena itu pula pengaruhnya pada anak didik dan juga pada outcome tidak sebesar mata pelajaran lainnya.
Musik di sekolah tidak cukup untuk banyak peserta didik. Ketika banyak peserta didik yang mengikuti bimbingan belajar agar sukses di mata pelajaran pilihannya di sekolah, cukup banyak peserta didik yang berpaling pada pendidikan musik di institusi selain sekolah untuk membangun kemampuan musik siswa.
Kala kursus-kursus menjadi suplemen untuk banyak mata pelajaran lain seperti kimia dan ekonomi, di Indonesia justru kursus musik menjadi pemeran utama dibandingkan dengan pelajaran yang didapat di sekolah.
Sedangkan bagi mereka yang tidak berkesempatan mengecap pendidikan informal musik, lebih mengandalkan naluri bermusik dan otodidak daripada pendidikan musik di sekolah.
Itulah keadaannya, bahwa musik di pendidikan formal sekolah masih menjadi anak tiri di ranah sendiri.

Untuk Sementara
Untuk sementara ini, harus disadari secara penuh oleh pelaku pendidikan, khususnya institusi pendidikan musik bahwa merekalah yang memegang kualitas pendidikan musik Indonesia.
Kursus-kursus inilah yang terus menjadi barometer kualitas pendidikan musik di Indonesia sampai beberapa waktu ke depan, sampai kurikulum sekolah umum dapat menawarkan pelayanan yang lebih memuaskan dalam pendidikan musik.
Tanggung jawab ini bukan mainan belaka. Terutama karena sampai saat ini pendidikan musik masih sangat terbatas jangkauannya. Sekolah-sekolah musik pun belum sebanyak kursus-kursus Bahasa Inggris yang menjamur di mana-mana. Hal yang sama juga berlaku bagi guru-guru privat musik.
Kualitas musik di Indonesia, termasuk musisi, adalah sebagian besar cerminan kualitas pendidikan yang ditawarkan pendidikan ‘informal’ tersebut, baru kemudian tawaran pendidikan ‘formal’.
Jadi kualitas pendidikan musik di institusi pendidikan musik haruslah terus dikembangkan, karena saat ini merekalah yang merupakan ujung tombak sekaligus hulu geliat musik di sekitar kita.
Begitu pula dengan pendidikan musik di sekolah-sekolah formal beserta dengan kurikulumnya, harus berkembang sampai dengan pendidikan sekolah mengambil alih kunci pendidikan musik di Indonesia. Begitulah yang seharusnya.
Sampai pada waktunya, institusi pendidikan musik dan guru privat musiklah yang harus berjuang keras, menjaga dan meningkatkan pendidikan musik tanah air.
Untuk semua pelaku pendidikan musik, di sekolah maupun sanggar, selamat berjuang… Dan untuk seluruh pelaku dan insan pendidikan, selamat hari pendidikan nasional.

Baru saja saya membaca iklan suatu lembaga pendidikan, mencuplik beberapa berita di harian Kompas. Berita yang pertama mengatakan 2000-4000 orang pengangguran baru tercipta di Indonesia setiap hari. Lebih lanjut Kompas memberitakan, diperkirakan di tahun 2009, Ada 116,5 juta orang (69% dari total penduduk) di Negeri ini Serbu Pasar Kerja! Mengerikan! Sarjana, Sarjana, Sarjana Jamannya si Doel, menjadi sarjana merupakan suatu kebanggaan yang luar biasa. Bagaimana dengan sekarang? Mau tahu berapa kebutuhan tenaga sarjana di Indonesia? 75.000 orang saja pertahunnya! Emang berapa jumlah lulusan sarjana? 3 juta sarjana baru setiap tahunnya. Jadi jangan heran, sayapun pernah punya driver yang sarjana, bahkan dari lulusan luar negeri. Kok bisa? “Daripada nganggur”, katanya. Anggap saja Anda adalah termasuk dari 75.000 sarjana yang “beruntung” mendapatkan job sarjana. Namun jangan protes jika penghasilan Anda akan mendapatkan “tekanan” alias pas-pasan. Jika tidak puas, monggo silakan keluar, wong masih tersisa 2,9 juta sarjana yang ngantri. Kompetisi pekerja akan semakin gila. Sudah hukum alam, jika supply berlebihan, harga akan banting-bantingan. Nah, rendahnya gaji di negara ini harusnya bukan salah siapa-siapa, tapi salah bersama. Hal itu disebabkan sedikitnya pertumbuhan usaha atau pengusaha di negeri ini. Seandainya saja pembaca sadar akan mendesaknnya “lowongan” pengusaha, lha mbok yuk jadi pejuang, keluar kerja dan bangun usaha. Khususnya bagi para sarjana dan lulusan sekolah kejuruan, dibuka lowongan “Wajib Usaha” (seperti wajib militer jaman perang). Kalo bangkrut gimana? Ya tinggal bangun lagi, wong dulu juga gak punya duit pas lahir. Apa yang ditakuti? Apalagi sekarang banyak sekali pendidikan informal yang mengajarkan “ilmu-ilmu praktis” mulai usaha, bangkit dari kebangkrutan ataupun paket mengembangkan usaha. Layaknya pasukan khusus yang dilatih dan diperbekali dengan senjata, tak perlu takut menghadapi musuh. Katakanlah Anda gagal terus dalam usaha dan ingin balik mencari kerja, apakah ditolak karena bekas pengusaha? Justru mentalitas pengusaha (Intrapreneurship) itu yang sekarang dibutuhkan, dibanding dengan karyawan yang “bermental” pekerja. Nah tuh, apalagi resiko jadi pengusaha? Paling ditakuti adalah saat kaya kemudian lupa diri saja. Mudah-mudahan para orang tua mulai sadar, bahwa “mempersiapkan anaknya untuk menjadi pekerja”, sama dengan menjerumuskan anaknya ke “tragedi lorong maut Mina”, berdesak-desakan kehabisan nafas. Berita yang marak akhir-akhir ini, bahkan Presiden SBY juga mengatakan,”Tren sekolah-sekolah sekarang adalah menciptakan Young Entrepreneur”. Daripada saling menuding dan memaki pemerintah dalam krisis ini, yuk kita menjadi bagian dari solusi krisis ini. Jadilah PEJUANG, jadilah PENGUSAHA! Jika ada yang perlu ditakuti, Takutlah “tidak punya KEBERANIAN”. Jika Anda mau mencaci, cacilah diri sendiri karena tidak berkontribusi.

Dalam UU Sistem Pendidikan Nasional dikemukakan bahwa fungsi pendidikan nasional adalah mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.
Ketika seorang manusia dilahirkan ke bumi kemudian tumbuh dan berkembang, selama hidupnya dia memiliki banyak potensi. Adalah tugas pendidikan untuk mengembangkannya sehingga setiap warga negara menjadi berguna bagi diri sendiri, masyarakat, bangsa, dan negara. Saat ini bangsa Indonesia memiliki berbagai permasalahan termasuk pengangguran. Pengangguran dianggap menjadi salah satu beban yang harus ditanggung bangsa. Mengurangi pengangguran berarti mengurangi beban bangsa dan menghindari semakin rumitnya masalah. Lalu bagaimana dengan banyaknya sarjana yang menganggur (tahun 2007 mencapai sekitar 2 juta) ?
Jawaban terletak pada sistem pendidikan kita. Kekurangan yang ada padanya adalah pendidikan kita menghasilkan banyak orang yang siap untuk menjadi buruh. Sejak awal kita memasuki dunia pendidikan formal, bahkan sebelumnya, baik dalam pendidikan formal di sekolah dan perguruan tinggi maupun dalam pendidikan informal di masyarakat dan keluarga mental kita dirancang untuk mempersiapkan diri menjadi pekerja. Salahsatu akibatnya adalah sebagaimana yang dikemukakan Garin Nugroho (Buku Merajut Kembali Ke-Indonesia-an Kita karya Sultan Hamengku Buwono X 2007) bahwa kita telah melupakan agrikultur.
Pendidikan telah menjadikan kita, termasuk saya, menjadi orang yang selalu berharap hanya pada gaji. Sampai-sampai kita lupa bahwa kita bisa kaya dari pertanian, dari kelautan, dan dari apa saja di bumi pertiwi ini. Bagaimana dengan budaya pertanian kita, bagaimana dengan budaya maritim kita, yang telah terbukti mampu mempertahankan Sriwijaya dan Majapahit ratusan tahun bahkan sampai 1000 tahun. Itu karena kekurangan pendidikan nasional kita yaitu belum banyak mendidik pemuda untuk bertindak selain sebagai buruh dan untuk menyadari kekayaan dan budaya negeri sendiri.
Sudah saatnya bangsa ini, pemerintah dan masyarakat, memasukkan nilai-nilai budaya agraris-maritim serta Trilogi Kebangsaan Bung Karno (kesadaran berbangsa, keinginan berbangsa, dan tindakan berbangsa) ke dalam pendidikan kita baik formal, nonformal, maupun informal. Jalur pendidikan yang mudah dikontrol dan diamati adalah pendidikan formal (sekolah dan perguruan) dan pendidikan nonformal (kursus, kepramukaan, dsb). Dari sanalah pemerintah bisa memulai menanamkan pembentukan karakter dan budaya agar lulusan pendidikan pada khususnya dan pemuda pada umumnya dapat dengan bangga berkata, “Aku berguna karena aku tidak menganggur”.

Perhatian pemerintah kepada pendidikan informal dan non-formal dirasa masih kurang. Pebedaan sikap bahkan masih terasa dengan kesan menomorduakannya.

Bogor-Perhatian pemerintah kepada pendidikan informal dan non-formal dirasa masih kurang. Pebedaan sikap bahkan masih terasa dengan kesan menomorduakannya.”Padahal sesungguhnya ada yang istimewa dalam program informal dan non formal ini, yaitu daya jangkaunya yang mampu menjangkau segala umur, tidak terikat status pernikahan, dan bisa menjangkau wilayah terpencil”, demikian Yusup Haryanto, SPd, koordinator PKBM Tunas Melati, Pemuda Muhammadiyah kabupaten Bogor kepada muhammadiyah.or.id, selasa (1/04/2008).

Menurut Yusup, setelah ada program BOS, sebenarnya masyarakat sudah banyak terbantu, khususnya untuk biaya SPP. Namun menurutnya, di lapangan ternyata biaya transport peserta didik ke sekolah masih banyak yang memberatkan orang tua siswa, terutama siswa dari daerah terpencil. “ Inilah kelemahan konsep Sekolah Terbuka” yang masih mengharuskan siswa berangkat dari rumah ke sekolah tertentu.  Belum lagi masalah dengan status perkawinan, dimana sekolah formal tidak memungkinkan seorang siswa sudah menikah ikut bersekolah.

Dengan pertimbangan itulah, menurut Yusup, pogram PKMB Tunas Melati yang pada awalnya merupakan hasil MOU PP Pemuda Muhammadiyah dan Dirjen Pendidikan Informal dan Non Formal saat ini menjadi solusi yang cukup menarik bagi warga belajar di daerah kabupaten Bogor. Program yang difasilitasi dengan Kelas Berjalan, berupa Bis ini bisa menjangkau pelosok dan masyarakat miskin dengan mudah. “ Karena program ini geratis dan kami mendatangi mereka” cerita Yusup.

Saat ini, PKBM Tunas Melati mengelola tujuh kecamatan di Kabupaten Garut, yaitu kecamatan Nanggung, Pamijahan, Jasinga, Leuwiliang, Cibubulang, Sukajaya, Darmaga dan Tamansari. Kesemuanya dikelompokkan pada 28 Kelompok belajar yang masing-masing kelompok berkisar antara 80 hingga 100 warga belajar, dengan dipandu tujuh hingga delapan tutor. Pogram yang baru berjalan setahun ini, saat ini sudah meluluekan 700 warga belajar dari paket A, B, dan C selain program pemberantasan buta aksara melalui Keaksaraan Fungsional, program Pendidikan Anak Usia Dini,  Kursus Masuk Desa  dan Beasiswa Belajar.

Keberlanjutan dan Pengembangan Program

Menurut Yusup, program yang sedang berjalan ini masih belum pasti apakah masih akan mendapat support dana dari Depdiknas untuk kelanjutan programnya, namun karena melihat manfaat program yang besar serta sambutan masyarakat yang besar, dengan ada tidaknya bantuan dari pemeintah segenap pengelola dan keluarga besar Muhammadiyah Kabupaten Bogor bertekad untuk meneruskan program ini.

Yusup mengakui, selama ini masalah yang dihadapi adalah kecilnya honor tutor yang saat ini berjumlah seratus orang. Karen a itu, selain berharap bahwa ke depan masih akan ada pihak-pihak yang mau bekerjasama membiayai program strategis ini, juga perlu diperhatikan bagaimana menaikkan kesejahteraan para tutor yang diambil dari keluarga besar Angkatan Muda Muhammadiyah Kabupaten Bogor sendiri.

Saat ini, PKBM Tunas Melati bertempat di kompleks amal  usaha Muhammadiyah Kabupaten Bogor, Jl Raya Leuwiliang No. 106, Bogor. Telp. 0251 47619. Di kompleks tersebut berdiri TK ABA, MI Muhammadiyah, Mu’alimim Muhammadiyah (Mts dan MA), BMT, Poskestren, Panti Asuhan Yatim dan Sekolah Tinggi Keguruan Ilmu Pendidikan (STKIP) Muhammadiyah Bogor.

Anggota DPRD Kalbar Katherina Lies meminta penyelenggaraan pendidikan informal perlu evaluasi dan audit lembaga independen. Menurut dia, program yang dilaksanakan dinilainya banyak gagal daripada berhasil. Seperti program penuntasan buta aksara atau program Kejar Paket A, kepala daerah jangan hanya menerima hasil di atas kertas saja. Tetapi coba turun ke lapangan melihat secara langsung kondisinya,” tegas dia, kemarin, di ruang kerjanya.

Anggota Komisi D DPRD Kalbar ini mengatakan menemukan lokasi program Kejar Paket A di dapilnya, dimana pertemuan antara penyelenggara atau instruktur dengan peserta didik hanya satu kali setahun. Sebut dia, sedangkan hasil yang dilaporkan kepada pemerintah daerah kabupaten/kota selalu baik-baik saja.

“Penyelenggaraan program pendidikan informal ini dilakukan oleh instansi terkait dengan mitranya. Dana yang dikeluarkan tidak sedikit untuk memberantas buta aksara maupun program pendidikan informal seperti sistim paket,” ungkap Katherina.

Legislator dari PDS ini menyebutkan mengaudit berhasil atau tidak cukup gampang. Jelas dia, dimana dilaksanakan program disitulah tim mengaudit apakah peserta bisa membaca atau tidak, mengenal huruf atau tidak.

“Semuanya akan dapat dilihat apakah instansi terkait melaksanakan tugas bersama mitranya secara serius atau tidak. Makanya, saya berpendapat perlu ada sebuah evaluasi dan audit untuk itu,” tegas legislator perempuan ini.

Secara terpisah, aktivis PMII, Nurfitriansyah mengatakan beberapa rekan yang sempat KKN di kawasan pedalaman beberapa waktu lalu memang sempat menemukan masyarakat buta aksara. Sebut dia, mahasiswa yang KKN sempat memberikan pelajaran kepada warga di sekitar mereka praktek lapangan.

“Kita sangat mendukung jika ada audit penyelenggaraan pendidikan informal yang hanya berhasil menurunkan buta aksara beberapa persen selama lima tahun. Uang negara yang dikeluarkan cukup besar untuk itu,” tegasnya.

Dia mengharapkan ada lembaga independen dapat mendorong pengauditan tersebut. Sehingga, kata dia, ada transparansi penyelenggaraan pendidikan. “Mudah-mudahan, pemerintah daerah mau melakukan hal itu,” harap dia. (riq)

< Anggota DPRD Kalbar Katherina Lies meminta penyelenggaraan pendidikan informal perlu evaluasi dan audit lembaga independen. Menurut dia, program yang dilaksanakan dinilainya banyak gagal daripada berhasil. Seperti program penuntasan buta aksara atau program Kejar Paket A, kepala daerah jangan hanya menerima hasil di atas kertas saja. Tetapi coba turun ke lapangan melihat secara langsung kondisinya,” tegas dia, kemarin, di ruang kerjanya.

Anggota Komisi D DPRD Kalbar ini mengatakan menemukan lokasi program Kejar Paket A di dapilnya, dimana pertemuan antara penyelenggara atau instruktur dengan peserta didik hanya satu kali setahun. Sebut dia, sedangkan hasil yang dilaporkan kepada pemerintah daerah kabupaten/kota selalu baik-baik saja.

“Penyelenggaraan program pendidikan informal ini dilakukan oleh instansi terkait dengan mitranya. Dana yang dikeluarkan tidak sedikit untuk memberantas buta aksara maupun program pendidikan informal seperti sistim paket,” ungkap Katherina.

Legislator dari PDS ini menyebutkan mengaudit berhasil atau tidak cukup gampang. Jelas dia, dimana dilaksanakan program disitulah tim mengaudit apakah peserta bisa membaca atau tidak, mengenal huruf atau tidak.

“Semuanya akan dapat dilihat apakah instansi terkait melaksanakan tugas bersama mitranya secara serius atau tidak. Makanya, saya berpendapat perlu ada sebuah evaluasi dan audit untuk itu,” tegas legislator perempuan ini.

Secara terpisah, aktivis PMII, Nurfitriansyah mengatakan beberapa rekan yang sempat KKN di kawasan pedalaman beberapa waktu lalu memang sempat menemukan masyarakat buta aksara. Sebut dia, mahasiswa yang KKN sempat memberikan pelajaran kepada warga di sekitar mereka praktek lapangan.

“Kita sangat mendukung jika ada audit penyelenggaraan pendidikan informal yang hanya berhasil menurunkan buta aksara beberapa persen selama lima tahun. Uang negara yang dikeluarkan cukup besar untuk itu,” tegasnya.

Dia mengharapkan ada lembaga independen dapat mendorong pengauditan tersebut. Sehingga, kata dia, ada transparansi penyelenggaraan pendidikan. “Mudah-mudahan, pemerintah daerah mau melakukan hal itu,” harap dia.

Untuk meningkatkan kompetensi, Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) Lathifah milik Muslimat Nahdlatul Ulama (NU) menerapkan metode pembelajaran beyond centers and circle time (BCCT) dan berstandar internasional.

Demikian disampaikan Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Muslimat NU Hj. Khofifah Indar Parawansa usai menghadiri pembukaan pelatihan keaksaraan fungsional (KF) dan loka karya pertanian yang digelar Pimpinan Wilayah (PW) Muslimat NU Provinsi Lampung di Wisma Bandar Lampung, Kamis (7-6). Hadir Direktur Jenderal (Dirjen) Pengolahan dan Pemasaran Hasil Pertanian, Departemen Pertanian Djoko Said, Kepala Biro Pemberdayaan Perempuan Pemerintah Provinsi Lampung Ellya Muchtar dan puluhan pejabat teras, organisasi wanita dan 1.200 anggota Muslimat NU se-Lampung.

Pada kesempatan itu Khofifah juga meresmikan PAUD Lathifah di Jalan W.R. Supratman, Telukbetung Selatan, Bandar Lampung.

Selanjutnya Khofifah menjelaskan fokus metode pembelajaran BCCT dengan mengajak anak-anak lebih aktif, inovatif, dinamis, partisipasif, dan agamais dengan bahasa pengantar bahasa Inggris. Yakni mulai dari proses belajar mengajar hingga alat permainan edukatif (APE) dikemas sedemikian rupa sehingga anak-anak makin kreatif dan inovatif. Misal saja, mulai dari tempat duduk dan meja harus ditata sedemikian rupa dengan posisi melingkar. Sehingga anak-anak diajak berdiskusi tentang berbagai hal juga mengenal huruf dan angka, serta cara menghitung dan membaca yang dikemas secara rekreatif. Sesuai pembelajaran PAUD yakni belajar sambil bermain. “Jadi, tak hanya TK dan raudhatul athfal (RA) saja yang berstandar internasional, tapi juga PAUD Muslimat NU.”

Selanjutnya ia menjelaskan, saat ini, Muslimat NU memiliki 2.224 PAUD, dari jumlah tersebut terbanyak di Jawa Timur (Jatim). “Di Lamongan, Jatim, kami memiliki 560 PAUD. Bahkan PAUD Tarahan di Kalimantan Timur, Batam, dan Sidoardjo menjadi PAUD percontohan,” ujar dia.

Tahun ini, ia menargetkan setiap anak cabang (kecamatan) dan ranting (kelurahan) memiliki PAUD.

Muslimat NU juga memiliki 9.800 taman kanak-kanak (TK) dan 11.900 taman pendidikan Alquran (TPA), dan 32 pusat kegiatan belajar masyarakat (PKBM) yang tersebar di berbagai pelosok Tanah Air.

Sementara, Ketua PW Muslimat NU Provinsi Lampung Hj. Hariyanti Syafrin

menjelaskan PW Muslimat NU memiliki PAUD, TK/RA, taman pendidikan agama (TPA), taman pendidikan Quran (TPQ) di bawah naungan Yayasan Al Ma’arif yang tersebar di 10 kabupaten/kota.

Sementara itu, Dirjen Pengolahan dan Pemasaran Hasil Pertanian Djoko Said mengaku salut atas komitmen Muslimat NU dalam membantu pemerintah baik di bidang pendidikan, pertanian, ekonomi, dan sebagainya.

Hal senada juga disampaikan Kepala Biro Pemberdayaan Perempuan Pemerintah Provinsi Lampung Ellya Muchtar. “Sebagai underbouw dari ormas NU, ternyata kiprah Muslimat NU sangat banyak. Tak hanya meningkatkan pendidikan dan dakwah, tapi juga pemberdayaan perempuan,” ujar dia. AST/S-1



  • Yugo: Wuihhh...wuihh.....Berat berat Boooo..artikelnyaaaaa... artikel nya Btw nulis ndiri nehh ???? wah kayanya saya agak sedikit merinding nehh dengernya
  • wulan: menarik pembahasan tentang anak usia dini, tapi sebagai pengajar di PAUD sering dituntut oleh orang tua atau wali murid. Mereka ingin anak mereka bisa
  • edi kurniawan: komandan,. aku pengen bimbingan ya dan...............
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.