mEry’S bLo9

Arsip untuk kategori ‘Pendidikan non formal

Pengalokasian 20 persen Anggaran Pendapatan Belanja Negara (APBN) untuk bidang pendidikan sangat penting bagi pembiayaan peningkatan kualitas pendidikan nasional. Begitu pentingnya bidang pendidikan bagi kemajuan bangsa, maka kebijakan politik pemerintah harus kuat dan tak ada salahnya jika anggaran 20 persen itu menjadi satu-satunya solusi merampungkan program wajib belajar sembilan tahun.
Ketua Umum DPP Hidayatullah Drs. H. Abdul Mannan SE. MM., mengatakan bahwa anggaran pendidikan 20 persen sebaiknya tak hanya difokuskan kepada pendidikan formal saja, melainkan untuk pendidikan non formal yang tak kalah penting perannya.
”Untuk mencetak best education, pemerintah hendaknya memerhatikan kebutuhan pendidikan non formal. Karena sektor ini mampu menopang keberadaan pendidikan formal,” kata Mannan kepada Jurnal Bogor, beberapa waktu yang lalu.
Menurut Mannan, sebaik apapun sistem pendidikan dan sebesar apapun dana yang dikucurkan, jika pengelola sekolah tak dapat berlaku bijak maka semua akan sia-sia. ”Sebelum menjalankan suatu sistem yang besar, internal sekolah harus kuat,” tegasnya.
Sebagai agen pembangunan, kata Mannan, lembaga pendidikan bernama sekolah punya peran besar dan urgen untuk memajukan dunia pendidikan. Oleh sebab itu, tambahnya, pendidikan yang menghabiskan banyak biaya harus menjadi garda depan kemajuan bangsa.
Pendidikan sebagai ibu kandung kehidupan, jelas Mannan, harus memiliki karakter yang kuat. ”Satu bukti bahwa pendidikan di Indonesia belum bangkit adalah menggantungkan diri sepenuhnya dengan dana. Jika kita masih fokus dengan besarnya dana, selamanya kita tak akan kreatif,” paparnya.
Dikatakan dia, lemahnya political will pemerintah terhadap pendidikan di sebabkan oleh beban hutang negara yang sangat besar terhadap luar negeri. Mannan menilai alokasi dana yang seharusnya besar terhadap kebutuhan pendidikan menjadi kecil karena alokasi tersebut dialihkan untuk hutang negara yang mendesak terhadap hutang luar negeri. “Implikasi yang harus diterima oleh lembaga pendidikan untuk menyukupi kebutuhannya kurang,” ujarnya.
Mannan menambahkan, pendidikan sebagai ujung tombak bangsa untuk memperbaiki kebobrokan dan menjunjung tinggi nama baik bangsa harus dijunjung tinggi.
Diakui Mannan, warisan terakhir bangsa ini sebenarnya adalah pendidikan. “Jika keadaan tanah air ini bobrok maka dapat dilihat dari wajah pendidikan itu sendiri,” tegasnya

Pendidikan non formal (PNF) makin diminati karena programnya semakin menglobal.  Terus berkembangnya berbagai lembaga pelatihan profesional non formal, secara bertahap  bisa mengimbangi pendidikan formal.

Dirjen Pendidikan Non Formal dan Informal Departemen Pendidikan Nasional, Ace Suryadi pada pameran lembaga kursus dan kelembagaan tingkat Jawa Timur “Eduvaganza 2007″ di Surabaya, Sabtu (21/7). Pameran yang digelar di sebuah pusat perbelanjaan itu diikuti 50 lembaga kursus pra profesi (KPP).

“Ilmu yang diperoleh di sekolah formal, relatif kecil dibanding dengan pengetahuan mengikuti kursus. Sebab melali kursus peserta benar-benar disiapkan untuk menjadi profesional,” kata Ace.

Pada pameran tersebut KPP yang dikembangkan oleh Asosiasi Perusahaan Jasa Tenaga Kerja Indonesia_Jatim, memperkenalkan berbagai kursus untuk persiapan calon TKI.

“Berbagai kursus keterampilan bagi  calon TKI seperti bahasa Inggris, Mandarin, Korea dan Arab serta keterampilan khusus bagi pembantu rumah tangga dilakukan  pada satu tempat,” kata Wellem Elimkusuma, seorang pengelola KPP untuk calon TKI

Untuk meningkatkan mutu tenaga pendidik dan kependidikan, pendidikan non formal, di Kabupaten Sawahlunto Sijunjung, Sanggar Kegiatan Belajar Muaro Sijunjung melaksanakan pendidikan dan pelatihan bagi PTK PNF.

Peserta Diklat terdiri dari unsur tutor kesetaraan Paket B 20 orang, Paket C 20 orang, PAUD 20 orang, tutor keaksaraan fungsional 20 orang dan penyelenggara program sebanyak 20 orang.

Kepala SKB Muaro Sijunjung, Awaluddin Zainu. S.Sos, mengatakan, pelatihan ini dilaksanakan mulai 5 Nopember sampai 10 Nopember mendatang.         Sedangkan instruktur berasal dari Dinas Pendidikan Propinsi Sumatera Barat, Balai Pengembangan Kegiatan Belajar Sumatera Barat, Dinas Pendidikan Kabupaten serta Kepala SKB Muaro Sijunjung.

Lebih lanjut Awaluddin Zainu menjuelaskan, sesuai dengan undang-ungdan No.22 Tahun 2003,  pendidikan di Indonesia terbagi 3 kategori, diantaranya pendidikan formal yang diperoleh di bangku sekolah. Pendidikan Non formal yang diperdapat diberbagai lembaga atau organisasi dan pendidikan Informal yang diperdapat dalam lingkungan keluarga.

”Nah sekarang ini yang kita laksanakan adalah pendidikan non formal, dengan pelatihan yang dilaksanakan ini, kita berharap pendidikan non formal ini akan semakin meningkat mutu dan kualitasnya. Untuk itu kita laksanakan pelatihan bagi para tutor, sebagai bekal bagi mereka dalam memberikan didikan bagi anak didik,” katanya.

Kepala SKB mengharapkan kepada seluruh peserta untuk dapat menterapkan ilmu yang di berikan instruktur, serta menerapkannya dalam pembinaan dilapangan nanti, sehingga ilmu yang telah di transfer instruktur benar-benar bermanfaat.

Pertanyaan: Saat ini usia saya 37 tahun, single parent, dengan 2 orang anak, 1 putri usia 11 tahun, dan 1 putra usia 8 tahun. Saya memiliki usaha sendiri di bidang Lembaga Pelatihan untuk para profesional, khususnya untuk perusahaan-perusaaan Telekomunikasi. Usaha saya sudah berlangsung selama sekitar 4 tahun. Rencananya saya akan membuka usaha kos-kosan karena saya berpikir bahwa kita juga harus memikirkan usaha yang bersifat pasif income. Selain usaha kos-kosan tersebut, saya tertarik juga untuk membuat usaha Pendidikan Non-Formal (sistem Franchise) untuk anak-anak. Pertanyaan saya : a. Apakah strategi bisnis saya tersebut sama-sama menguntungkan? b. Apa kelebihan dan kelemahan bisnis Franchise? c. Dari kedua jenis bisnis tersebut, manakah yang memiliki tingkat risiko yang lebih tinggi? d. Bagaimana cara mengelola kedua bisnis tersebut dihitung dari sisi finansialnya? e. Dari sisi permodalan bisnis franchise tersebut akan memakan modal yang cukup tinggi untuk investasi tempat, karena rencananya saya akan membuat bisnis ini di salah satu Mall. Apa kelebihan dan kekurangannya jika bisnis ini ditempatkan di Mall? f. Bentuk apa yang tepat untuk investasi tempat: membeli, sewa atau profit sharing? Mana yang lebih mennguntungkan untuk saya? Jawaban : Pertama, saya ucapkan selamat karena Anda berhasil menjalankan dua pekerjaan sebagai pencari nafkah dan pendidik anak-anak sekaligus. Pertanyaan tentang pilihan bisnis usaha kos-kosan dan pendidikan non formal (sistem franchise) dapat kami jawab satu persatu sebagai berikut. A. Apakah strategi bisnis saya tersebut sama-sama menguntungkan?Setiap bisnis pasti memiliki cara bagaimana memperoleh keuntungan yang diharapkan, apakah bisnis kos-kosan maupun usaha pendidikan non formal. Dalam bisnis yang berbeda pasti memiliki cara dan pengetahuan yang berbeda dalam menjalankannya, demikian pula cara memperoleh keuntungan. Yang penting apakah kita cukup fokus dan tekun dalam menjalankan bisnis tersebut. B. Apa kelebihan dan kelemahan bisnis Franchise? Di bawah ini adalah kelebihan dan kekurangan bisnis franchise yang dipaparkan secara sederhana. Kelebihan : Ada sistem yang sudah terbukti berhasil Ada model sukses dari orang-orang yang sudah menjalankan bisnis ini Adanya jaringan yang luas, karena bisnis franchise yang berhasil pasti banyak diminati oleh masyarakat luas Adanya brand/merk yang sudah dikenal dan teruji di pasaran Adanya dukungan teknis dari pemilik bisnis [franchisor] Kekurangan :Pihak pembeli franchise tentunya tidak bebas dalam mengembangkan inovasi maupun kreativitas dalam mengembangkan bisnis franchise ini. Semuanya sudah teratur rapi dalam sistem yang baku. Ada biaya yang cukup tinggi yang dibayarkan di awal maupun di waktu-waktu berikutnya. C. Dari kedua jenis bisnis tersebut, manakah yang memiliki tingkat resiko yang lebih tinggi?Semua bisnis pasti memiliki risiko, yang menjadi pertanyaan adalah apakah risiko yang ada bisa dihilangkan atau minimal dikurangi. Anda dapat membuat risiko yang mungkin timbul dari kedua pilihan bisnis tersebut, dan kemudian lakukanlah penilaian apakah risiko tersebut bisa dihilangkan atau hanya bisa dikurangi. Dari kedua macam bisnis tersebut mana yang paling tidak berisiko. D. Bagaimana cara mengelola kedua bisnis tersebut dihitung dari sisi finansialnya?Pertama yang harus dilakukan adalah membuat rencana bisnis, darimana modal didapat?, berapa pengeluaran yang harus dilakukan?, darimana pemasukan didapat?, apakah pada akhirnya menghasilkan keuntungan? berapa lama modal akan kembali? berapa lama Anda dapat mulai menikmati keuntungan? Rencana bisnis ini haruslah mencakup berapa besar pegawai yang akan direkrut, kualifikasi apa yang sesuai, dan lain sebagainya. Apakah dari rencana bisnis tersebut menghasilkan angka yang dapat dipertanggungjawabkan? Jika ya, anda dapat mulai mempersiapkan bisnis yang ada. Jika tidak, ada dapat melakukan perbaikan rencana bisnis tersebut atau memilih bisnis lain yang lebih reasonable. E. Dari sisi permodalan bisnis franchise tersebut akan memakan modal yang cukup tinggi untuk investasi tempat, karena rencananya saya akan membuat bisnis ini di salah satu Mall. Apa kelebihan dan kekurangannya jika bisnis ini ditempatkan di Mall? Kita harus memiliki data yang lengkap tentang karakterisik dari mall tersebut, mulai dari siapa pengunjungnya, berapa lama pengunjung menghabiskan waktu di mall tersebut, untuk apa pengunjung datang ke mall, berapa besar pengunjung membelanjakan dananya di mal. Tampaknya perlu studi tentang market yang ada pada mal tersebut. F. Bentuk apa yang tepat untuk investasi tempat: membeli, sewa atau profit sharing? Mana yang lebih mennguntungkan untuk saya? Bentuk mana yang dipilih akan sangat bergantung pada kemampuan finansial Anda, apakah Anda cukup mampu untuk membeli, atau hanya cukup untuk sewa saja, atau malah bentuk profit sharing yang paling pas. Membeli tempat berarti Anda harus memiliki dana yang cukup atau memiliki kemampuan untuk meminjam dari lembaga pembiayaan baik bank maupun non bank dan Anda memiliki kemampuan untuk mengembalikannya. Jika ada kenaikan harga properti di lokasi tersebut, maka pengembalian pinjaman tidak akan mengikuti kenaikan tersebut. Menyewa berarti Anda melakukan perjanjian dengan pihak pemilik, Jika mall tersebut cukup ramai dan bisnis Anda juga berkembang, maka ada kemungkinan bahwa pemilik akan menaikkan harga sewanya. Sedangkan sistem profit sharing adalah membiarkan pihak pemilik tempat masuk ke dalam bisnis yang Anda jalankan. Apakah Anda cocok dengan pihak pemilik tempat ini dalam menjalankan bisnis ini ataukah tidak. Silakan pilih yang paling sesuai dan paling pas dengan rencana Anda. Tampaknya banyak PR yang diselesaikan dulu sebelum melangkah, tetapi diucapkan SELAMAT BERJUANG untuk membuat bisnis yang baru. Joannes Widjajanto-Shildt Financial Planning

Tadi pagi sampai siang sebelum ke Sahid, saya diminta oleh PKBM Sekar Melati (Mlati, Sleman) mengisi pada Workshop Pengembangan Silabus dan Penyusunan RPP Pendidikan Kesetaraan. Workshop tsb dilaksanakan didorong keinginan untuk mengimplementasikan Permendiknas no 14 Tahun 2007 ttg Standar Isi Pendidikan Kesetaraan dan pengalaman ketika uji petik akreditasi Badan Akreditasi Nasional Pendidikan Nonformal (BAN PNF), yaitu teman2 pengelola PKBM ditanya dokumen silabus dan RPP program Kejar Paket A, B, dan C yang diselenggarakan.

Lha, saya sampaikan pada mereka sadarkan kita bahwa telah terjadi formalisasi pada pendidikan nonformal, termasuk pada pendidikan kesetaraan. Memang standar nasional pendidikan sebagaimana diatur PP 19 th 2005 harus kita pegang untuk mencapai standar minimal layanan pendidikan. Namun demikian, memperhatikan ragam dan bentuk pendidikan nonformal maka tidak serta merta berbagai standar yang berlaku pada pendidikan formal dapat diterapkan pada pendidikan nonformal. Salah satunya adalah tuntutan adanya silabus dan RPP. Untuk silabus, walaupun tidak seperti silabus SD SMP dan SMA, memang harus ada karena merupakan arahan program pembelajaran secara garis besar. Namun untuk RPP saya kita perlu dipertimbangkan untuk dilakukan penyederhanaan bentuk sehingga tidak memberatkan para tutor yang saya kira hampir semua adalah sukarelawan. Berbeda dengan guru yang sekarang ini sudah mulai menikmati tunjangan profesi.

Saya pikir BAN PNF perlu mencermati kembali indikator tentang dokumen silabus dan RPP pada pengelola pendidikan kesetaraan tidak perlu dibikin terlalu ribet seperti pada persekolahan. Saya khawatir jika formalisasi pada pendidikan nonformal maka lama kelamaan akan menjadi pendidikan formalin. Hiks!

Dalam usaha peningkatan mutu pendidikan di Indonesia, peran jalur pendidikan non formal atau lebih dikenal Pendidikan Luar Sekolah (PLS) tidak dapat dilepaskan.

Hal tersebut menjadi topik dalam sebuah seminar yang diselenggarakan oleh Dewan Pendidikan Provinsi DKI di Jakarta Rabu pagi.

Pendidikan non formal yang ada saat ini cukup banyak. Berbagai kursus seperti kursus komputer, bahasa asing, sekretaris atau home schooling saat ini banyak diminati masyarakat.

Menurut Ketua Dewan Pendidikan Provinsi DKI, Pendidikan Luar Sekolah merupakan salah satu pilar dalam rangka peningkatan pendidikan di Indonesia.

Peningkatan mutu pendidikan luar sekolah sepertinya akan sia-sia jika tidak didukung stakeholder pendidikan lainnya, antara lain juga fasilitas pendukung.

Seminar ini digelar untuk mendapat masukan yang bisa menjadi rujukan untuk dapat merealisasikan peningkatan mutu pendidikan di Indonesia.

Pemerintah Provinsi DKI Jakarta merasa perlu untuk terus mempromosikan pendidikan non formal diwilayahnya. Hal itu karena pendidikan non formal adalah salah satu alternatif, bagi masyarakat untuk memperoleh pendidikan yang layak. Disamping itu, pendidikan non formal yang ada di Jakarta juga mengajarkan ketrampilan sehingga peserta didik bisa lebih mandiri.

Sejak 2003, program pendidikan luar sekolah di DKI Jakarta telah meluluskan sebanyak 96.541 orang. Rinciannya, Program Keaksaraan Fungsional (KF) sebanyak 21.860 orang, Paket A Setara SD 9.980 orang, Paket B setara SMP 42.700 orang, paket C setara SMA 13.480 orang, kursus keterampilan 6.165 orang, dan pendidikan kecakapan hidup (life skills) 8.521 orang.

“Pengenalan program-program pendidikan luar sekolah perlu terus dilakukan, makanya diperlukan keterlibatan semua pihak, agar program pendidikan yang semakin berkembang ini bisa lebih dikenal,” ujar Rationo, Kepala Sub Dinas Pendidikan Menengah dan Tinggi DKI Jakarta, saat acara Ekspo Kegiatan Pendidikan Nonformal di Jakarta Barat, Senin (15/12). Menurut Rationo, dengan Ekspo yang dilakukan di Jakarta Barat, diharapkan minat masyarakat untuk mengikuti pendidikan nonformal semakin bertambah.

Selain itu, peningkatan mutu juga perlu terus dilakukan. Dengan peningkatan mutu, para lulusan dari sekolah ini, memiliki berbagai keterampilan seperti keterampilan personal, sosial, akademik, dan advokasional. “Melalui kecakapan hidup ini, lulusan sekolah non formal diharapkan dapat bekerja atau berusaha baik secara kelompok atau mandiri,” katanya.

Sementara Wakil Walikota Jakarta Barat, Burhanuddin mengatakan, keberadaan pendidikan nonformal sangat penting karena membantu program pemerintah, yaitu pemberantasan buta aksara dan penerapan wajib belajar sembilan tahun. Terlebih, pendidikan nonformal yang ada saat ini kelulusanya sudah setara dengan pendidikan formal. “Pendidikan nonformal adalah upaya untuk meningkatkan kualitas hidup masyarakat,” tuturnya.

Pemerintah Kota Jakarta Barat (Pemkot Jakbar) sendiri sejauh ini cukup gencar melakukan pembinaan terhadap lembaga-lembaga pendidikan nonformal yang ada. Salah satu upayanya dengan diadakanya acara Ekspo Kegiatan Pendidikan Non Formal melalui berbagai macam lomba seperti, ekpose kegiatan pendidikan non formal (PNF), yang dilaksanakan di ruang serba guna, kantor walikota. Kegiatan ini dihadiri sekitar 1.000 peserta dari berbagai unsur masyarakat, peserta PNF, pusat kegiatan belajar masyarakat (PKBM), penyelenggara pendidikan termasuk lembaga kursus dan pelajar pendidikan formal dari SMA/SMK di Jakarta Barat.

Kasie Pendidikan Luar Sekolah (PLS) Sudin Dikmenti Jakarta Barat, Sonya Soenayah mengatakan, saat ini di Jakarta Barat terdapat 56 PKBM, enam di antaranya PKBM Negeri. Selain pemberian penghargaan kepada para peserta pemenang ekspose kegiatan PNF, pihaknya juga menggelar berbagai pentas kreatifitas seni dan sekitar 30 bazar.

Menteri Pendidikan Nasional (Mendiknas) Bambang Sudibyo, di Jakarta, Selasa [13/11] , mengatakan anggaran untuk pendidikan dasar non-formal terus meningkat dari tahun ke tahun, bahkan tahun 2008 pemerintah telah menyiapkan dana Rp2,5 triliun.

“Pada tahun 2005 anggaran sektor ini hanya Rp1,4 triliun, lalu naik di tahun 2006 jadi Rp2,1 triliun, dan tahun 2007 Rp2,4 triliun,” kata Bambang usai rapat di Kantor Menteri Koordinasi Kesejahteraan Rakyat (Menko Kesra).

Dalam kesempatan itu Mendiknas menjelaskan program-program pendidikan dasar non-formal bertujuan menjangkau kawasan terpencil yang banyak memiliki angka putus sekolah, dan diharapkan lewat program ini kemiskinan bisa dikurangi.

“Pendidikan dasar non-formal terdiri atas pendidikan keaksaraan dan pendidikan kesetaraan,” ujar Bambang dan menambahkan, “Keduanya mengajarkan baca-tulis dan pelatihan keterampilan kecakapan hidup serta bantuan sedikit dana modal usaha.”

Ia menegaskan, target utama program ini adalah mereka yang putus sekolah dan hidup di pedesaan terpencil atau sulit mendapat akses ke kota.

“Dengan dana Rp2,5 triliun, kami perkirakan program bisa dinikmati oleh sekitar 12 juta orang di seluruh Indonesia,” ujarnya.

Menurut data Departemen Pendidikan Nasional, program pendidikan non-formal telah mencatatkan keberhasilan yang signifikan dalam hal penurunan angka buta huruf dan pengangguran.

“Sekitar 80 persen peserta didik program keaksaraan berhasil membentuk Kelompok Belajar Usaha (KBU), dan mereka mandiri walaupun tetap butuh bantuan modal,” tambahnya.

Sejak program ini digulirkan pada tahun 2004 di enam kabupaten di Indonesia, lanjut Bambang, sekitar 82 persen peserta program sudah bisa mandiri dengan bidang usaha yang ditekuni.

Bank Dunia pun berniat memberikan hibah 143 juta dolar Amerika dan pinjaman lunak 100 juta dolar untuk mendukung program ini, ujar Mendiknas.

Angka buta aksara di Indonesia terus menunjukkan penurunan, pada Oktober 2007 tercatat tinggal 11 juta orang atau 7,2 persen populasi berusia di atas 15 tahun yang tidak bisa baca tulis. Angka itu jauh lebih rendah daripada data tahun 2004 yang 10,2 persen. “Keberhasilan program keaksaraan di Indonesia ini sangat diapresiasi UNESCO, bahkan dijadikan percontohan buat negara-negara lain,” kata Bambang. ( ant )

‘Home Schooling’ menjadi alternatif pilihan pendidikan nonformal bagi anak-anak yang enggan belajar secara formal di kelas.

“Pendidikan ini dapat dilakukan di mana saja dan membuat anak merasa bebas tanpa ada paksaan,” kata Pendiri Home Schooling Kak Seto atau nama lengkapnya Seto Mulyadi, di Jakarta, Rabu.

Dia mengatakan keputusan untuk mengikuti home schooling ini haruslah sepenuhnya dari keinginan anak, tanpa paksaan dari orang tua.

Menurut dia, kesuksesan untuk dapat menjadi guru yang baik bagi anak-anak adalah dengan cara bersabar, mengajarkan tanpa paksaan, dan dengan bahasa yang lembut.

“Tidak perlu dengan paksaan dan suara tinggi. Lakukan dengan senyum, maka mereka akan senang,” katanya.

Dia mengatakan ada beberapa klarifikasi format home schooling yang diperkenalkan, yakni home schooling tunggal yang hanya dididik oleh orang tua, home schooling majemuk yang dilaksanakan dua atau lebih keluarga untuk kegiatan tertentu, sementara kegiatan pokok tetap dilaksanakan oleh orang tua masing-masing.

Dan terakhir, dia menyebutkan komunitas home schooling yang merupakan gabungan beberapa home schooling majemuk yang menyusun dan menentukan silabus, bahan mengajar, kegiatan pokok seperti olahraga, musik dan seni, serta sarana dan jadwal pembelajaran.

Salah seorang murid Kak Seto yang juga memiliki home schooling untuk balita, Shelomita, mengatakan terkadang orang tua tidak yakin dapat menjadi guru yang baik bagi putra-putrinya sendiri.

Menurut Shelomita, pada awalnya dia juga merasa khawatir apakah mampu untuk menjadi guru bagi anak-anaknya. Namun, akhirnya dengan kepercayaan diri sanggup menjadi guru sekaligus orang tua bagi anak-anaknya.

Alasan dia membuka home schooling untuk balita, yakni ingin memberi kebebasan pada anak-anak, tapi tetap dapat belajar.

Carut-marut dunia pendidikan Indonesia, sungguh tampil sebagai suatu realitas yang sangat memprihatinkan. Mahalnya biaya pendidikan yang tidak serta merta dibarengi dengan peningkatan kualitas secara signifikan, tentu menimbulkan tanda tanya besar mengenai orientasi pendidikan yang sebenarnya sedang ingin dicapai.

Ironisnya, disaat beberapa negara tetangga terus berupaya keras melakukan peningkatan kualitas pada sektor pendidikan, banyak pihak di negara ini justru menempatkan pendidikan sebagai suatu komoditas yang memiliki nilai jual yang tinggi. Tak mengherankan bahwa ketika banyak pihak mengejar pendidikan dari sisi kuantitas, tentu menimbulkan berbagai macam konsekuensi logis seperti terabaikannya faktor kualitas pendidikan.

Parahnya lagi, belakangan kita juga telah disadarkan bahwa banyak lulusan pendidikan formal tidak memiliki spesifikasi keahlian yang dibutuhkan oleh dunia kerja. Menanggapi kondisi yang seperti ini, Paulus Wisnu Anggoro, Direktur UAJY-Delcam Traning Center, menuturkan bahwa banyak dari kalangan industri yang menjadi kliennya mengeluhkan keterbatasan skill yang dimiliki oleh para lulusan perguruan tinggi, sehingga mau tidak mau seorang fresh graduate harus dilatih dari awal lagi. Ini pemborosan untuk pihak perusahaan sebagai user lulusan perguruan tinggi.

Dihadapkan pada kompleksnya situasi seperti yang dijabarkan diatas, kini banyak lembaga pendidikan non formal berupaya menempatkan diri sebagai alternatif solusi permasalahan diatas. Dengan tawaran sifat aplikatif dan biaya yang relatif lebih murah, banyak lembaga pendidikan non formal terbukti mampu menghasilkan lulusan yang sama kualitasnya bahkan lebih handal dari pada lulusan yang dihasilkan oleh lembaga pendidikan formal dalam menghadapi persaingan.

Dalam situasi demikian, makna dibalik fenomena bermunculannya lembaga pendidikan non formal sebenarnya lebih ingin memberikan ruang kesadaran baru pada masyarakat, bahwa upaya pendidikan bukan sekedar kegiatan untuk meraih sertifikasi atau legalitas semata. Lebih daripada itu, upaya pendidikan sejatinya merupakan kegiatan penyerapan dan internalisasi ilmu, yang pada akhirnya diharapkan mampu membawa peningkatan taraf kehidupan bagi individu maupun masyarakat dalam berbagai aspek.

Fleksibilitas waktu

Keunggulan lain yang ditawarkan oleh lembaga pendidikan non formal sebenarnya ada pada fleksibilitas waktu yang dimiliki. Selain bisa dijalankan secara manunggal, pendidikan non formal bisa dijalankan pula secara berdampingan dengan pendidikan formal. Tak mengherankan apabila belakangan lembaga pendidikan non formal tumbuh dengan pesat, berbanding lurus dengan tingginya minat masyarakat terhadap jenis pendidikan tersebut.

Tidak hanya itu, lembaga pendidikan non formal juga berpeluang untuk menghasilkan tenaga kerja yang siap pakai. Hal ini terbukti dari banyaknya lembaga pendidikan non formal seperti ADTC dan Macell Education Center (MEC) yang siap menyalurkan lulusan terbaiknya ke berbagai perusahaan rekanan. Ini merupakan tawaran yang patut dipertimbangkan ditengah sulitnya mencari lapangan pekerjaan seperti sekarang ini.

Antonius Sumarno selaku Branch Manager English Language Training International (ELTI) Yogyakarta, juga menuturkan bahwa kemunculan lembaga pendidikan non formal seperti lembaga pelatihan bahasa misalnya, sebenarnya tidak hanya berfungsi untuk menyiapkan diri dalam menghadapi persaingan di era globalisasi. Setidaknya dengan penguasaan bahasa asing, individu akan dimudahkan dalam melakukan penyerapan berbagai ilmu pengetahuan yang saat ini hampir semua referensi terbarunya hanya tersedia dalam bahasa asing. Selanjutnya keunggulan tersebut dapat pula memperluas peluang individu dalam menangkap berbagai kesempatan.

Hebatnya lagi, tersedia pula lembaga pendidikan non formal yang tidak hanya membekali lulusannya dengan ilmu, namun juga membekali sikap kemandirian yang mendorong terciptanya kesempatan untuk berwirausaha. Ini merupakan bukti nyata upaya memperkuat struktur riil perekonomian masyarakat yang belakangan makin terpuruk. Disaat banyak orang kebingungan mencari pekerjaan, banyak lulusan lembaga pendidikan non formal yang menciptakan lapangan pekerjaan.

Namun dibalik semua keunggulan dan variasi lembaga pendidikan non formal yang tersedia, kejelian masyarakat dalam memilih lembaga pendidikan non formal sebagai wahana untuk mengasah keterampilan dan menyiapkan diri dalam menghadapi persaingan penting untuk dipertahankan. Indikator yang paling sederhana adalah seberapa besar kesesuian bidang pelatihan yang ditawarkan oleh lembaga pendidikan non formal dengan minat maupun bidang yang saat ini kita geluti.

Tujuannya, tentu tidak lain supaya keahlian yang didapatkan dari pelatihan lembaga pendidikan non formal dapat berjalan beriringan dan saling melengkapi minat dan dunia yang kita geluti, serta meningkatkan keunggulan kompetitif yang kita miliki. Lebih lanjut, kejelian dalam memilih juga berfungsi pula agar investasi finansial yang telah ditanamkan tidak terbuang percuma karena program yang sedang dijalani “terhenti di tengah jalan”.



  • Yugo: Wuihhh...wuihh.....Berat berat Boooo..artikelnyaaaaa... artikel nya Btw nulis ndiri nehh ???? wah kayanya saya agak sedikit merinding nehh dengernya
  • wulan: menarik pembahasan tentang anak usia dini, tapi sebagai pengajar di PAUD sering dituntut oleh orang tua atau wali murid. Mereka ingin anak mereka bisa
  • edi kurniawan: komandan,. aku pengen bimbingan ya dan...............
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.