mEry’S bLo9

POLA PENDIDIKAN ANAK USIA DINI ( PAUD )

Posted on: 18 Maret 2009

A.PERLU GERAKAN PENDIDIKAN USIA DINI

Pendidikan anak usia dini tidak harus selalu mengeluarkan biaya tinggi atau melalui wadah tertentu, melainkan dapat dimulai di rumah oleh keluarga. Tempat bermain, kelompok belajar, dan taman penitipan anak baru sebatas sarana.

Hal itu diungkapkan Direktur Jenderal Pendidikan Luar Sekolah dan Pemuda Fasli Djalal di sela jumpa pers Lomba Karya Jurnalistik berfokus Pendidikan Anak Usia Dini, Rabu (20/10).

Pendidikan usia dini dapat diberikan sejak anak dalam kandungan hingga berusia enam tahun. “Rangsangan itu dapat mulai diberikan sejak anak dalam kandungan, misalnya dengan bercakap-cakap,” katanya.

Kontak anak dengan keluarga dan lingkungannya dapat menjadi stimuli utama, terlebih lagi anak menghabiskan waktu terbanyak dengan keluarga.

Dalam perkembangannya, rangsangan diberikan dengan melibatkan seluruh indra anak. Pada intinya, anak jangan dibiarkan sendiri, termenung- menung tanpa aktivitas. “Kalau konsep sederhana tersebut sudah diikuti, itu sudah mencakup pendidikan usia dini,” ujarnya.

Usia dini merupakan usia emas untuk menyerap berbagai materi, termasuk membaca atau berhitung. Namun, orangtua dan tenaga pendidik harus memberikan materi yang dekat dengan kehidupan dan lingkungan anak.

Kegiatan itu dijalani anak dengan menyenangkan dan tanpa paksaan. Orangtua dan pendidik hanya menjadi fasilitator yang memberikan pilihan kepada anak, bukan memaksakan kehendak.

Pendidikan usia dini juga mencakup masalah pengasuhan, gizi, dan kesehatan anak. Hanya saja, pendidikan usia dini belum banyak diketahui masyarakat.

Anak yang mendapatkan pelayanan pendidikan usia dini juga masih terbatas. Dari 12 juta anak usia taman kanak-kanak, hanya sekitar 2,4 juta anak yang terlayani. Sementara rata-rata kelahiran anak sekitar 4 juta setiap tahun.

Fasli juga mengharapkan potensi masyarakat untuk membuat gerakan pendidikan usia dini. Salah satu kekuatan besar untuk digabungkan dengan program pendidikan usia dini adalah pos pelayanan terpadu (posyandu). Saat ini terdapat sekitar 245.758 posyandu di seluruh Indonesia. (INE)

B.BEBAN MATERI PENDIDIKAN ANAK

Pertumbuhan dan perkembangan taman kanak-kanak (TK) sangat menggembirakan. Hal ini terlihat dari semakin semaraknya lembaga pendidikan TK, baik yang ada di pedesaan maupun perkotaan. Di samping itu, banyaknya lembaga pendidikan yang mengkhususkan untuk memproduksi tenaga kependidikan pada tingkat TK merupakan salah satu indikasi bahwa pendidikan TK telah begitu menyita perhatian banyak kalangan.

Menjamurnya lembaga pendidikan TK tentu saja secara otomatis menimbulkan persaingan yang semakin ketat. Dari sini tampaknya persaingan tersebut menjadi tidak sehat bila dilihat dari kerangka paedagogis. Masing-masing lembaga penyelenggara TK menonjolkan lembaganya dengan menawarkan program-program yang over dosis, yaitu pemberian materi yang lebih memokuskan penggunaan pikiran dan cenderung membuat anak hidup dalam ketegangan, seperti materi bahasa asing (Inggris), drum band, komputer, membaca, menulis maupun menghitung. Padahal, bagi anak di bawah usia tujuh tahun (usia TK) apresiasi pada dirinya terakumulasi dalam bentuk permainan dan nyanyian, bukan sebagaimana program over dosis tersebut.

Selain masalah materi yang berkaitan dengan pendidikan TK, juga semakin banyaknya SD yang mensyaratkan bagi siswanya yang akan masuk sudah harus berijazah TK. Kiranya, perkembangan-perkembangan yang terkait dengan keberadaan TK ini membutuhkan pengamatan yang cermat. Untuk itu, agaknya perlu mengkaji kembali konsep pendidikan TK, seperti pernah digagas oleh Friedrich Frobel (1782-1852) dan Dr Maria Montesorri (1870-1952).

MENURUT Frobel, pendidikan anak merupakan salah satu masalah pendidikan yang terpenting. Maka, saat ia mendirikan TK yang diberi nama Kindergarten, ia merumuskan tujuan umum pendidikan TK adalah mengembangkan bekerja sendiri pada anak melalui permainan. Karena, dalam pandangannya anak sampai usia tujuh tahun pada dasarnya kemampuan untuk bekerja sendiri pada anak muncul dalam dorongan untuk bermain, menyanyi dan bekerja (pekerjaan) tangan.

Dari tujuan umum tersebut, Frobel merinci tujuan pendidikan TK. Pertama, memberikan pendidikan pada anak sebelum memasuki usia SD. Kedua, meringankan beban ibu rumah tangga sebagai pendidik di rumah. Ketiga, memberikan contoh kepada kaum ibu bagaimana seharusnya ia mendidik anak. Keempat, memberikan kesempatan kepada anak untuk belajar bergaul dengan teman-temannya sebagai latihan awal bersosialisasi dengan lingkungan yang lebih luas.

Dalam proses pendidikannya, Frobel lebih dominan memakai daya fantasi anak. Dalam hal ini prinsip yang dipakai adalah urutan berjenjang, dimulai dari yang mudah kemudian berlanjut pada yang lebih sukar. Inilah hakikat pendidikan TK yang dirumuskan Frobel sebagai bapak pencetus TK di dunia ini.

Adapun Maria Montesorri dalam menyelenggarakan pendidikan TK berpegang pada prinsip “mendidik dalam kebebasan untuk kebebasan”. Prinsip demikian meniscayakan pada satu keyakinan bahwa anak mempunyai potensi untuk mendidik diri sendiri. Dengan demikian, dalam penyelenggaraannya tidak ada materi yang ditentukan oleh guru tetapi yang ada adalah pengasuh sebagai pendamping anak dalam proses pertumbuhan diri secara spontan dengan menggunakan alat permainan.

Dengan memperhatikan konsep pendidikan TK di atas, tampak jelas bahwa pendidikan TK materinya tak lebih dari bermain, menyanyi, dan pekerjaan tangan. Bila kita sekarang menyelenggarakan pendidikan TK dengan materi-materi, seperti bahasa asing, komputer, drum band dan sebagainya, maka jelas itu telah keluar dari rel-rel kependidikan. Ini secara otomatis

telah merampas kebebasan, kebahagiaan, dan nurani anak. Sebab, anak dicekoki dengan materi di luar kemampuan dan perkembangan fisik maupun psikologisnya.

Memang, harus diakui bahwa mayoritas orangtua menyekolahkan anaknya di TK agar dapat membaca, menulis, atau menggunakan permainan-permainan dan kemampuan tertentu. Hal ini terjadi karena keringnya pengetahuan orangtua terhadap perkembangan anak. Ketika mendapatkan tawaran lembaga pendidikan TK yang menyelenggarakan program-program istimewa mereka dengan sangat antusias memasukkan putra-putrinya kelembaga tersebut, meskipun dengan mengeluarkan biaya yang mahal. Larangan pemberian materi berlebihan dari pihak yang berwenang (dalam hal ini Depdiknas) tak dihiraukan lagi, baik oleh penyelenggara pendidikan (yang mungkin sebenarnya lebih tahu persoalan ini) maupun dari para orangtua (yang mungkin karena ketidaktahuannya dan atau memang tidak tahu).

Oleh karena itu, kiranya saat ini kita mesti segera mengadakan telaah ulang terhadap pemahaman pendidikan TK maupun orientasi dalam penyelenggaraannya, yang telah telanjur menyimpang dari prinsip-prinsip pendidikan ini, meski harus diakui tidak semua demikian. Dengan adanya perombakan dan telaah ulang tersebut, anak akan dapat tumbuh dengan senang tanpa adanya penekanan beban-beban tertentu.

Memang, apabila anak yang lulus TK telah dapat membaca, menulis, dan berhitung akan mempermudah guru SD. Akan tetapi, saya kira ini hanya satu kelebihan yang sesungguhnya sangat tidak fundamental. Yang lebih diutamakan hendaknya adalah persoalan mental anak. Oleh karena itu, apa pun alasannya, dengan pemberian materi yang over dosis pada anak merupakan wujud pemaksaan terhadap hak-hak anak, baik dengan sengaja maupun tidak. Terlepas dari itu semua, yang pasti pendidikan TK adalah sesuatu yang sangat penting. (Nurul Huda SA, pemerhati masalah sosial, keagamaan, pendidikan dan anak, bekerja di LKiS Yogyakarta)

C.PENTINGNYA PENDIDIKAN USIA DINI

Banyak orangtua makin menyadari betapa pentingnya pendidikan bagi perkembangan masa depan anak mereka. Dan untuk menyiapkan masa depan tersebut, para orangtua memberikan pendidikan sedini mungkin kepada si kecil.

Misalnya dengan memasukkkan anak ke play group (taman bermain). Belakangan, metode pendidikan ini begitu populer dan dianggap mampu membuat anak memiliki nilai lebih atau maju selangkah dibanding teman-teman lainnya. Bukankah ini akan menjadi bekal penting dalam menghadapi zaman yang semakin kompetitif.


Menurut Basti, psikolog, pendidikan play group ini dikhususkan buat anak usia tiga sampai lima tahun. Dengan maksud untuk mengajarkan anak bersosialisasi dengan rekan sebayanya, menumbuhkan rasa kepercayaan diri mereka dalam bergaul dengan metode pendidikan bermain. Sehingga mereka juga memperoleh keterampilan motorik dan bahasa.


“Dalam play group itu anak-anak hanya bermain. Karena masa mereka adalah bermain, dari

bermain itulah mereka belajar. Jadi jangan diberikan pendidikan akademis, anak bisa terbebani,” jelas Basti.


Permainan yang adapun, hendaknya beragam dan tidak membahayakan. Ini agar anak merasa enjoy dalam lingkungannya atau tidak lekas bosan. Play group yang bagus, tambah Basti adalah bila anak merasa aman belajar dan bermain di sana.


Frekuensi waktu belajar, lanjutnya mesti pula diperhatikan paling lama 2-3 jam. Terlalu lama bermain juga tidak baik bagi anak-anak. Begitupun dengan masa belajar di play group, maksimal dua tahun saja.


Hal tersebut untuk menghindari agar anak tak merasa bosan. “Kalau terlalu lama, mereka akan bosan dan jenuh. Sehingga menganggap apa yang diberikan itu sebagai sebuah beban. Dampaknya, ketika anak lanjut sekolah, mereka jadi tambah bosan karena sejak kecil sekolah terus,” lanjutnya.


Suatu play group sebaiknya tidak memberikan anak tugas atau pekerjaan rumah. Dampak ke depannya hampir sama, selain anak merasa terbebani, mereka juga akan lekas bosan ketika menginjak bangku sekolah yang sesungguhnya sehingga anak jadi benci belajar.


Namun, tambah Basti metode pendidikan belajar dan bermain ini sebenarnya bisa juga diberikan di rumah saja oleh orangtua. Apalagi bila tujuannya hanya sekadar pengenalan huruf dan bermain-main.


Biar bagaimanapun pembentukan hampir seluruh unsur diri seorang anak itu terjadi di rumah. Bagaimana kepribadian mereka, keterampilan hidup, dan perilaku mereka dibentuk pada saat usia anak masih dalam asuhan orangtua.


Jadi, bila orangtua memang masih memungkinkan untuk membimbing anaknya, mengapa bukan anda yang mengajar anak. Orangtua tentu lebih tahu bakat, karakter, dan cita-cita anak karena interaksinya lebih sering .


Sebagai guru, orangtua juga paling memahami, kapan harus memotivasi anak atau kapan anak harus istirahat. Pendidikan di rumah ini bisa dilakukan lebih fleksibel disesuaikan dengan kondisi keluarga.

D. SERASA BELAJAR DI RUMAH

Lembaga pendidikan bagi anak usia dini tidak hanya sekadar tempat belajar. Lebih dari itu, juga menjadi tempat bermain untuk memacu kreativitas. Karenanya, suasana pendidikan bagi anak-anak usia prasekolah sebaiknya lebih rileks. ”Sehingga saat belajar pun anak-anak merasa berada di rumah sendiri,” ungkap Hanifa Aldy, ketua Yayasan Islam Hanifa.


Konsep itulah yang diterapkan Yayasan Islam Hanifa dalam mengelola taman kanak-kanak (TK), kelompok bermain (play group), dan Taman Pendidikan Alquran (TPA) Hanifa, di Jalan Pamulang Eara, Tangerang, Provinsi Banten.


Dengan suasana seperti rumah itu, Hanifa Aldy yakin lebih efektif dalam memacu kreativitas anak. Peserta didik menjadi lebih betah berada di sekolah, sehingga mereka bisa menikmati dan mudah mencerna materi pelajaran yang diberikan para gurunya. ”Metode belajarnya pun kami kemas sedemikian rupa, sehingga kadang-kadang siswa merasa belum mulai belajar, padahal sebenarnya pelajaran sudah dimulai,” jelas Hanifa.

Efektivitas itu sudah dibuktikan oleh sebuah penelitian yang dilakukan Hanifa sendiri yang sekarang sedang mengikuti program pascasarjana pendidikan usia dini di Universitas Negeri Jakarta. ”Setelah kami komparasikan dengan metode lain, sistem ini lebih baik,” paparnya.


Metode belajar yang dipakai memadukan sistem pendidikan usia dini yang diterapkan di lembaga-lembaga pendidikan internasional dan lembaga lokal. Di antaranya, menerapkan jumlah peserta didik yang sedikit dalam satu kelas yang cukup luas. Kemudian mengajarkan bahasa Inggris, Arab, komputer, seni, dan berenang sebagai intrakurikuler. ”Kami menerapkan tiga bahasa, dan memberikan pendidikan agama Islam kepada siswa sejak dini,” ujar Kepala TK Hanifa, Robiah SAg.


Ditambah lagi dengan program ekstrakurikuler seperti pengenalan profesi, penumbuhan potensi dan bakat, serta sering melakukan pertunjukan sehingga siswa menjadi berani tampil di depan umum, serta mengikuti sejumlah perlombaan. ”Siswa kami menjadi juara pertama, kedua, dan ketiga pidato bahasa Inggris antar-TK se-Pamulang,” ujar Robiah yang mendapat predikat guru TK teladan seprovinsi Banten itu.


Karena banyaknya program yang diterapkan, waktu pendidikan di TK Hanifa lebih panjang. ”Tapi, karena suasana belajarnya seperti di rumah, siswa tetap kerasan bahkan mereka masih ingin tinggal di sekolah meski jam belajar selesai,” tambah Hanifa.


Lembaga pendidikan anak Hanifa yang dibangun di atas lahan 750 meter persegi itu, kini memiliki sekitar 100 siswa TK yang ditampung dalam sembilan kelas; dua kelas play group, dan beberapa kelas TPA yang diikuti para pelajar sekolah dasar. Peserta didiknya tidak hanya penduduk Pamulang, tapi juga dari Bumi Serpong Damai (BSD), Sawangan, dan lainnya.


Adalah Hanifa Aldy yang mendirikan lembaga pendidikan anak itu pada 1998. Istri Darwin Noor SH MM, direktur utama PT Jasa Rahardja ini, merasa terpanggil untuk berkontribusi dalam program pendidikan usia dini. ”Sebenarnya latar belakang pendidikan saya adalah sarjana hukum, tapi saya merasa tertantang untuk menekui bidang pendidikan usia dini ini,” tutur Hanifa.


Meski tidak berpengalaman menjadi guru TK, namun bagi Hanifa bukan hal baru berada di lingkungan pendidikan anak. Maklum saja, orang tuanya di Medan adalah guru mengaji yang santrinya mencapai 200 sampai 300 orang. ”Jadi sejak kecil saya sudah akrab dengan lingkungan dan suasana pendidikan,” katanya.


Ketika awal menerima siswa baru tahun 1998, jelasnya, ia tidak menduga kalau TK yang didirikan di tepi jalan raya utama kawasan Pamulang itu akan diminati banyak orang. Karenanya, lahan sekolah yang semula hanya sekitar 450 meter persegi diperluas menjadi sekitar 750 meter persegi.


Ruangan kelasnya pun ditambah jadi 10 kelas. Masih dilengkapi pula laboratorium bahasa, laboratorium komputer, studio seni musik, arena bermain kreatif, perpustakaan, dan unit kesehatan siswa (UKS).


Misi utama yang diemban Yayasan Islam Hanifa, menurut pendirinya, adalah memberikan bekal dasar bagi anak-anak dengan pendidikan yang diintegrasikan dengan nilai-nilai luhur Islam. Menjadikan anak-anak dapat memahami nilai-nilai Islam sebagai sikap dalam kehidupan sehari-hari. ”Menyiapkan bekal bagi tertentuknya anak-anak yang shalih dan shalihah, bertakwa kepada Allah,” urai Hanifa.


Hanifa menyadari, untuk memberikan pendidikan anak sejak dini memerlukan biaya yang cukup besar alias mahal. Namun, ia tidak sepakat bila lembaga-lembaga pendidikan bagi anak-anak itu harus komersil. ”Kami tidak pernah menghitung investasi untuk program ini harus break event point (BEP). Kami hanya ingin peduli memberikan pendidikan sejak anak usia dini,” kata Hanifa yang sehari-harinya mengelola langsung lembaga pendidikan tersebut.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


  • Yugo: Wuihhh...wuihh.....Berat berat Boooo..artikelnyaaaaa... artikel nya Btw nulis ndiri nehh ???? wah kayanya saya agak sedikit merinding nehh dengernya
  • wulan: menarik pembahasan tentang anak usia dini, tapi sebagai pengajar di PAUD sering dituntut oleh orang tua atau wali murid. Mereka ingin anak mereka bisa
  • edi kurniawan: komandan,. aku pengen bimbingan ya dan...............
%d blogger menyukai ini: