mEry’S bLo9

Tarbiyah islamiyah VS Perang Peradaban

Posted on: 18 Maret 2009

Setiap orang dilahirkan dalam keadaan fitrah. Kemudian ia belajar dan berkembang melalui pancaindera, lingkungan, lembaga-lembaga pendidikan dan pengajaran yang didirikan oleh masyarakat. dalam hal ini Allah SWT berfirman: “Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatu pun, dan memberi kamu pendengaran, penglihatan dan ahti agar kamu bersyukur” (Q.S. An-Nahl: 78) Masyarakat primitif adalah masyarakat yang bermula dari kondisi jahl (bodoh) dan tidak memiliki pengetahuan. Lalu mereka belajar dan mengembangkan diri mereka dengan pola pendidikan yang sesuai dengan norma-norma sosial, seiring dengan terbentuknya ideology masyarakat, sistem nilai, serta lembaga ilmiah dan pendidikan yang bertanggung jawab akan proses belajar mengajar. Hal ini menunjukkan bahwa sebuah peradaban memang tidak lahir secara spontan, melainkan dari sebuah tradisi keilmuan yang kokoh hingga menciptakan sebuah tatanan keumatan yang bermartabat dan tangguh. Untuk itulah tarbiyah, yang merupakan sarana pentransferan dan penyebarluasan ilmu menjadi hal yang sangat disoroti. Masa depan pendidikan Islam di dunia muslim ini tergantung kepada tingkat kesadaran pada pendidik muslim, keikhlasan dan perbuatannya. Juga tentunya tergantung kepada kemauan negara-negara muslim untuk mengimplementasikan syairat Islam dalam berbagai sektor kehidupan. Dalam sejarah umat Islam, sejak diturunkannya wahyu kepada Nabi Muhammad saw, pendidikan telah menumbuhkan generasi yang beriman, berguna bagi dirinya dan mengabdi kepada masyarakatnya serta membawa manusia kepada kesejahteraan dan kebahagiaan. Pada periode Makkah misalnya, Rasulullah saw menggunakan tenggang waktu tiga belas tahun untuk menanamkan akidah dan moral Islam kepada para sahabat agar mereka bertanggung jawab terhadap tugas dakwah Islam dan menumbuhkan masyarakat yang Islami. Pendidikan seperti ini pun beliau lakukan pada masyarakat Madinah ketika Islam telah memiliki pemerintahan dan masyarakat Islam dapat bernaung di bawahnya. Orang-orang yang dididik pada sekolah Muhammad saw menjadi figure dan suri tauladan dalam segala urusan agama Allah SWT. Pendidikan Islam ini memang merupakan suatu proses mengubah perilaku manusia berdasarkan tujuan-tujuan yang ingin dicapai yaitu akhlak islami. Dan sekaligus ia telah memenuhi perannya yang istimewa dalam mentransfer turast dan peradaban Islam dari para orang tua (guru) kepada anaknya (murid), dan dari generasi lama ke generasi baru. Tantangan al-Gazwul Hadhari Dewasa ini pendidikan Islam tersendat dalam menghadapi berbagai tantangan yang mengancam eksistensinya. Tantangan-tantangan itu merupakan bagian dari tantangan global yang memperdaya peradaban Islam. Tidak ada solusi lain melainkan setiap muslim harus bangkit untuk menghadapi persoalan ini baik secara individu maupun kelompok. Jika para pemikir Islam tidak berhati-hati, gejala ini sangat berbahaya karena akan menghapuskan peradaban Islam. Peradaban Barat didukung oleh media massa yang kuat seperti radio, bioskop, televisi, internet dan surat kabar yang telah masuk ke negara muslim. jika para pemuda kita, apapun keahliannya tidak dibarengi dengan tradisi keilmuan Islam yang membangun peradaban Islam, maka sangat mungkin pola pikir mereka akan terkikis dari nilai Islam yang syumul kemudian tergantikan dengan peradaban dan nilai-nilai Barat yang jelas tidak bisa ditolerir dalam sistem Islam. Berkaitan dengan al-ghazwul hadhari, seorang ilmuan antropologi, Linton mengatakan, “Setiap peradaban terdiri dari bagian umum, bagian khusus, dan bagian substitusi. Bagian umum mengandung nilai-nilai, adat tradisi, tradisi dan pemikiran-pemikiran dasar yang mengikat seluruh anggota masyarakat. Bagian khusus adalah konsep-konsep dan adat istiadat yang tidak bertentangan dengan bagian umum. Bagian khusus hanya berlaku untuk satu kelompok masyarakat dan tidak berlaku untuk kelompok lainnya. Adapun substitusi peradaban adalah pemikiran-pemikiran atau adat istiadat yang dibangun oleh seorang individu, seperti keinginan pribadi untuk pemenuhan terhadap kebutuhan-kebutuhannya, tetapi tidak membahayakan kelompoknya.” Ketika sebuah peradaban mendapatkan serangan dari peradaban yang lain maka perlu diketahui bahwa kemungkinan besar bagian yang akan disusupi merupakan bagian umum. karena pada bagian ini mengikat seluruh atau sebagian besar masyarakat yang berada dalam keterikatan budaya atau pun spiritual. Sehingga yang mengkhawatirkan dari serangan peradaban ini yaitu apa yang disebut dengan taklid a’ma (mengikuti secara membabi buta) terhadap peradaban yang memerangi. Hal ini karena begitu banyaknya unsur peradaban yang dimasukkanke dalam peradaban yang diperangi. Unsur-unsur yang dimasukkan itu adalah bagian-bagian umum yang terkadang sulit disisihkan. Maka al-gazwul hadhari itu dimulai dengan memutuskan jalur transformasi peradaban dari satu generasi ke generasi berikutnya. Hal ini dilakukan karena ia tidak mampu menghancurkan unsur-unsur internal peradaban yang diperangi secara cepat, terutama pada tingkat penghancuran jiwa, sosial dan politik. Perang Salib Model baru Kenyataan yang harus kita sadari sekarang adalah bahwa peradaban Islam tengah menghadapi Perang Salib dalam bentuk baru. Pernyataan palingma perang Prancis, Gourow, ketika mengunjungi makan Shalahuddin Al-Ayubi di Damaskus adalah, “Wahai Shalahuddin, bangkitlah dari kuburmu. Kami adalah pengganti-pengganti Ricardos. Manakah pengganti-penggantimu”? kemudian pernyataan Idane, “Janganlah kita membiarkan negara-negara muslim di dunia bersatu atas dasar prinsip-prinsip Islam, karena mereka akan menembus pintu gerbang Eropa sebagaimana mereka menembusnya pada abad pertengahan. Jika dibiarkan, maka masa depan peradaban negara-negara Eropa akan sangat berbagaya.” Demikian juga pernyataan Abaibane dalam pidatonya di salah satu universitas Amerika, “Kita tidak takut dengan nasionalisme dan socialisme di kawasan Timur Tengah, akan tetapi kita takut terhadap Islam yang mulai agresif di kawasan itu.” Banyak lagi penyataan-pernyataan yang menunjukkan indikasi Perang Salib dalam bentuk baru yang lebih hebat. Pendidikan Islam memiliki peran yang harus dimainkan untuk membuka tabir rahasia Perang Salib bentuk baru itu, yaitu al-gazwul hadhari yang berbahaya bagi generasi muda Islam. Pendidikan Islam hendaknya dapat menjaga mereka dari bahaya-bahaya yang ditimbulkan sehingga mereka tidak terjerumus dalam berbagai ketidakjelasan yang mengutari bi’ah Islam dan peradabannya. Pendidikan Islam juga harus mendorong mereka agar memiliki sikap positif dalam upaya menampilkan karakteristik asli agama Islam dan turastnya, yang akan menjalani proses perkembangan dengan tetap menjaga dasar-dasarnya yang kokoh. Islam itu kokoh pangkalnya dan dinamis cabang-cabangnya. Islam adalah akidah dan sistem hidup yang cocok untuk setiap tempat dan zaman. Permasalahan Kurikulum Kurikulum kebudayaan Islam di negara muslim sebagian masih terbelenggu dengan kurikulum yang kaku. Dalam artian kurikulum yang kurang memperhatikan perkembangan-perkembangan modern untuk menjaga para pemuda dari keterperosokan mereka ke dalam kejahatan hidup abad modern dan kebudayaan Barat. Kurikulum kebudayaan Islam pun tidak membekali mereka konsep Islam yang lengkap untuk kehidupan Islami yang dibangun di atas dasar ilmu, amal, akidah dan jihad, serta di atas dasar pemahaman bahwa Islam adalah sistem kehidupan yang sempurna, yang secara lembut mampu menjawab tuntutan abad modern dengan menggunakan metode mutakhir yang dapat memelihara pokok-pokok ajaran Islam. Sementara itu, universitas-universitas modern di negara muslim, malah cenderung memisahkan kebudayaan Islam dari kurikulumnya, dengan alasan tidak sesuai dengan kebutuhan masyarakat dan lapangan kerja. Sementara pendidikan keagamaan cukuplah merupakan tugas fakultas agama. Proyek pemisahan ini dimulai oleh Danielube, seorang berkebangsaaan Inggris, supervisor pendidikan Mesir pada masa penjajahan Inggris. Proyek ini dimulai dengan merumuskan pemisahan pengajaran di Mesir dan pemisahan dua kelompok kaum terdidik, yaitu kelompok kaum terdidik berbudaya agama dan kaum terdidik berbudaya modern. Danielube berusaha mengganti pengembangan kurikulum universitas, fakultas, dan lembaga-lembaga keagamaan yang seharunsya berdasarkan kepada kebudayaan Islam, dengan memperbanyak ilmu pengetahuan modern. Oleh karena itu, tumbuhlah sekolah-sekolah modern baru, universitas dan fakultas modern yang hanya menyajikan ilmu pengetahuan modern saja, tanpa memberikan bagian untuk ilmu-ilmu keislaman. Dengan pola seperti itu, lahirnya orang-orang terdidik yang asing terhadap agama dan turast umat. Singkatnya, penjajahan telah berhasil memasukkan konflik pemikiran pada generasi umat ini. Yang perlu dipahami adalah jika kurikulum sekolah dan universitas memasukkan kebudayaan Islam yang utuh di samping ilmu pengetahuan modern, sudah tentu akan menghasilkan budayawan, teknokrat, dokter muslim dan lain-lain. Mereka akan mengetahui keharusan bekerja yang berdasarkan syariah menurut spesialisasi masing-masing, serta berdasarkan teknik dan metode khusus yang saling melengkapi. Tanpa pengaturan seperti ini, konflik pemikiran akan tetap mengalir pada generasi kita yang terdidik.warna islam.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


  • Yugo: Wuihhh...wuihh.....Berat berat Boooo..artikelnyaaaaa... artikel nya Btw nulis ndiri nehh ???? wah kayanya saya agak sedikit merinding nehh dengernya
  • wulan: menarik pembahasan tentang anak usia dini, tapi sebagai pengajar di PAUD sering dituntut oleh orang tua atau wali murid. Mereka ingin anak mereka bisa
  • edi kurniawan: komandan,. aku pengen bimbingan ya dan...............
%d blogger menyukai ini: