mEry’S bLo9

Pendidikan Seks Usia Dini untuk Menambah Wawasan

Posted on: 18 April 2009

POLIKLINIK Ibu Hamil RS Bunda Jakarta pagi itu dipadati puluhan anak usia prasekolah. Ada yang belajar memandikan bayi, menengok bayi mungil usia 3 hari, hingga mengamati janin di dalam rahim ibu. Wah, menyenangkan ya.

Di ruangan KIE (Komunikasi Informasi dan Edukasi) lantai 4 RS Bunda Jakarta, tampak beberapa orang suster berbaju biru tengah menjelaskan tentang proses kehamilan. Puluhan anak yang berasal dari pre school High Scope Kuningan Jakarta tampak serius menyimak, sambil sesekali menyela dengan pertanyaan.

“Jadi, saat hamil perut ibu makin hari akan semakin besar. Setelah 21 minggu, bayi di dalam perut ibu sudah punya organ yang lengkap untuk hidup, tangan, dan kakinya juga sudah terbentuk. Setelah 40 minggu, bayinya siap dilahirkan,” tutur suster yang diiringi anggukan bocah-bocah lucu itu.

“Nah, ibu yang sedang hamil juga harus makan makanan sehat,” sebutnya. Di sudut lain, sekelompok anak-anak juga terlihat antusias memperhatikan peragaan memandikan bayi oleh suster. Dengan menggunakan boneka, mereka juga belajar mempraktikkan sendiri bagaimana memandikan bayi dengan benar, menggosok lembut bagian wajah, rambut, telinga, jari, leher dan kaki, mengelap dengan handuk, hingga memakaikan popok kain. Celoteh riang pun terdengar.

“Kami banyak mendengar dari orangtua murid bahwa anak-anak ini, terutama yang sebentar lagi akan punya adik, sebetulnya ingin membantu merawat adiknya.Tapi, karena mereka masih kecil, ya kadang cara menggendongnya juga masih kasar. Nah, melalui kunjungan ke rumah sakit ini kami harapkan mereka dapat belajar mempraktikkannya dengan benar,” ungkap kepala sekolah preschool High Scope Kuningan Sri Pratjajanti, atau yang akrab disapa Yanti.

Selain mengetahui proses terjadinya kehamilan dan cara memandikan bayi, anak-anak yang rata-rata berumur 3-4 tahun itu juga diajak menengok bayi-bayi mungil yang baru berumur 3 hari. Walau hanya dapat mengamati dari balik kaca, tak urung mereka berceloteh riang melihat enam bayi mungil dalam boksnya.

Ada yang tertidur pulas, menguap, berkomat-kamit, menangis. Saat ada bayi mengompol, suster juga memperlihatkan cara mengganti popoknya. Antusiasme yang sama juga terjadi di ruang USG kandungan. Berulang kali kata “Wow…” terlontar manakala spesialis kandungan RS Bunda dr Ivan S Rini, menunjukkan gerakan dan detak jantung janin di dalam rahim ibu melalui monitor USG.

“The baby comes from my mommy’s tummy,” seorang anak menjawab lantang manakala Ivan menanyakan asal usul bayi. “Do you know what the baby doing in the tummy?” pancing Ivan kepada anak-anak yang belajar dua bahasa (bahasa Indonesia dan Inggris) di sekolahnya itu.

“Sometimes the baby playing or sleeping while sucking the thumb,” sebut Ivan. Anak-anak pun tertawa riang melihat sang dokter memperagakan kebiasaan bayi mengisap jempol. “Anak-anak itu kan hanya mengerti konsep sederhana. Jadi, dalam menjelaskan jangan terlalu detail seperti ke orang dewasa. Cukup berikan pemahaman bahwa ada bayi di dalam perut ibu sehingga mereka lebih appreciate karena akan punya adik bayi misalnya,” ujar Ivan saat ditemui usai kunjungan anak-anak.

“Saya rasa kunjungan seperti ini juga bagus agar anak-anak tidak menganggap rumah sakit atau dokter itu menyeramkan atau takut disuntik,” sebut ayah tiga anak itu. Saat ini sejumlah preschool swasta di Jakarta memang menerapkan kunjungan lapangan (field trip) sebagai bagian penting dari kegiatan belajar mengajar.

“Kami biasa melakukannya dua kali setahun. Untuk kali ini, kebetulan berhubungan dengan kesehatan,” sebut Yanti. Kendati hanya berkunjung 2 jam di rumah sakit, anak-anak memperoleh pemahaman dasar tentang pendidikan seks yang paling sering ditanyakan anak seusia mereka, yaitu

“Adek bayi datangnya dari mana?”. Seringkali orangtua merasa kesulitan saat anak yang menurutnya masih di bawah umur sudah mulai bertanya halhal terkait seks. Akibat kurang siap, orangtua memberikan jawaban ala kadarnya. Bahkan, ada pula yang marah dan menyuruh anaknya diam.Padahal, tindakan tersebut justru akan meninggalkan tanda tanya makin besar pada anak.

Menurut psikolog Rose Mini AP, melalui pendidikan seks sebenarnya anak juga belajar tentang dirinya sendiri, dan ini berkaitan dengan tugas perkembangan yang harus dimiliki seorang anak.Anak usia 3 tahun misalnya, harus sudah belajar mengenai organ tubuh yang dimilikinya,setelah itu berlanjut pada fase pengenalan fungsi organ-organ tersebut.

“Kami bisa mulai dengan menceritakan nama-nama organ tubuh. Misalkan ?Tangan adek mana?’, ?Adek, punya tenggorokan enggak?’. Atau bisa juga melalui permainan kepala-pundaklutut-kaki yang maksudnya untuk menunjukkan area-area dari organ tubuh kita,” saran wanita yang akrab disapa Mbak Romi ini.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


  • Yugo: Wuihhh...wuihh.....Berat berat Boooo..artikelnyaaaaa... artikel nya Btw nulis ndiri nehh ???? wah kayanya saya agak sedikit merinding nehh dengernya
  • wulan: menarik pembahasan tentang anak usia dini, tapi sebagai pengajar di PAUD sering dituntut oleh orang tua atau wali murid. Mereka ingin anak mereka bisa
  • edi kurniawan: komandan,. aku pengen bimbingan ya dan...............
%d blogger menyukai ini: