mEry’S bLo9

Pendidikan Usia Dini Tekankan Bermain

Posted on: 18 April 2009

Pendidikan anak usia dini melalui berbagai lembaga yang saat ini kian marak seharusnya lebih menekankan kegiatan bermain. Untuk jenjang taman kanak-kanak misalnya, anak tidak harus ditarget mampu membaca, menulis, atau berhitung.

Demikian dikatakan Ketua Program Studi Pendidikan Usia Dini Universitas Negeri Jakarta Prof Dr Lexy J Moleong MA, Kamis (21/10).

Pada kenyataannya, banyak lembaga pendidikan usia dini mewajibkan murid-muridnya pandai baca dan tulis. Ini sudah konsep persekolahan umumnya, bukan lagi usia dini.

“Apalagi jika dipaksakan belajar dan diberi tumpukan pekerjaan rumah,” katanya.

Perlakuan yang tidak tepat dalam pendidikan usia dini dapat mengakibatkan anak trauma terhadap sekolah di kemudian harinya, misalnya muncul rasa benci atau bosan terhadap sekolah.

Tujuan pendidikan anak usia dini adalah agar anak bersosialisasi atau menyenangi pendidikan bersama teman-teman sebayanya.

Sekalipun ada materi pembelajaran yang ingin dimasukkan, harus sambil bermain atau kegiatan menyenangkan seperti bernyanyi. Oleh karena, pada hakikatnya anak usia dini masih dalam dunia bermain.

“Jika itu dilakukan, kewajaran dan perkembangan anak dihargai. Selain itu, kecepatan belajar anak berbeda sehingga tidak dapat dipaksakan menguasai materi bersamaan. Itu memerkosa perbedaan individu,” katanya.

Dalam panduan resmi taman kanak-kanak, menurut Lexy, tidak ada keharusan anak belajar membaca. Namun, kondisi di lapangan yang berbeda tidak terlepas dari orangtua yang terobsesi anak-anaknya belajar baca dan tulis sedini mungkin. “Sekolah terlalu sukar membendung keinginan tersebut,” tambahnya.

Lexy menambahkan, anak dapat mulai bergabung masuk kelompok bermain pada usia dua hingga tiga tahun. Kemudian, berlanjut ke prasekolah atau taman kanak-kanak pada usia empat hingga lima tahun.

1 Response to "Pendidikan Usia Dini Tekankan Bermain"

menarik pembahasan tentang anak usia dini, tapi sebagai pengajar di PAUD sering dituntut oleh orang tua atau wali murid. Mereka ingin anak mereka bisa membaca, menulis, dan berhitung setelah menitipkan anaknya di lembaga PAUD. So, gimana nich.. menghadapi tuntutan dari orang tua yang notabene memiliki latar belakang yang komplek.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


  • Yugo: Wuihhh...wuihh.....Berat berat Boooo..artikelnyaaaaa... artikel nya Btw nulis ndiri nehh ???? wah kayanya saya agak sedikit merinding nehh dengernya
  • wulan: menarik pembahasan tentang anak usia dini, tapi sebagai pengajar di PAUD sering dituntut oleh orang tua atau wali murid. Mereka ingin anak mereka bisa
  • edi kurniawan: komandan,. aku pengen bimbingan ya dan...............
%d blogger menyukai ini: