mEry’S bLo9

PENDIDIKAN AGAMA: Pendidikan nilai, moral atau agama?

Posted on: 19 April 2009

Pelajaran agama yang diberikan di setiap sekolah tidak murni lagi pendidikan agama. Karena nilai-nilai yang disampaikan begitu kompleks artinya nilai-nilai itu sudah bercampur baur sehingga sulit untuk dipisahkan. Nilai-nilai tersebut tidak hanya milik agama, nilai, moral tetapi sudah menjadi milik bersama. Oleh karena itu kita sering jatuh pada pendidikan moral atau nilai saja sehingga nilai-nilai agama tidak sampai pada anak. Hal ini terjadi karena nilai agama bersifat doktrinisasi berupa hafalan kitab suci dan ajaran-ajaran agama yang bersifat baku sehingga sulit dikembangkan. Salah satu jalan keluarnya adalah mempraktekan langsung dalam sekolah atau kelas, misalnya lewat “kantin kejujuran”.

Tindakan meniru merupakan cara belajar yang paling mudah dilaksanakan oleh setiap anak, misalnya meniru cara bicara orang tua, guru mereka atau meniru gerakan-gerakan bintang film kesukaan mereka. Lewat meniru itu pulalah anak-anak membentuk diri mereka, baik atau tidak baik, tergantung dari daya tangkap mereka. Proses peniruan yang dilakukan oleh setiap anak merupakan sesuatu yang memang harus dilewati oleh setiap anak. Namun proses itu harus dikontrol dan diawasi oleh orang tua dan guru agar tidak menyimpang dari nilai-nilai kebaikan. Karena itu dibutuhkan suatu tataran nilai yang dapat dijadikan pedoman bagi mereka. Ada berbagai tataran nilai yang dapat dipakai, salah satunya adalah nilai-nilai agama yang diperoleh dalam pelajaran agama, baik yang mereka terima dari kedua orang tua mereka ataupun di sekolah. Sekolah menjadi tempat alternatif bagi perkembangan keagamaan anak karena di sekolahlah anak-anak bertemu dengan begitu banyak anak yang berbeda keyakinan, sifat, yang bisa mempengaruhi kehidupan mereka baik secara langsung maupun tidak langsung. Kalau mereka tidak dibekali dengan nilai-nilai agama yang mendasar bisa jadi anak bersikap tidak peduli, anti terhadap kebaikan, akibatnya mereka seenaknya sendiri, tidak peduli terhadap teman, kurang bertanggungjawab.

Namun sayang, pelajaran agama yang diterima oleh anak-anak di Sekolah Dasar cederung bersifat doktrinisasi berupa hafalan, kitab suci dan ajaran-ajaran agama yang bersifat tetap dan baku sehingga sulit untuk dikembangkan. Hal ini disebabkan karena pada dasarnya nilai-nilai keagamaan sudah menjadi harga mati yang harus dipatuhi. Dalam situasi demikian, dibutuhkan kreatifitas guru agama untuk mencari nilai-nilai yang bisa direfleksikan lebih lanjut sehingga dapat dikaitkan dengan kehidupan masyarakat, syukur-syukur ada kaitannya dengan situasi anak-anak zaman sekarang. Kelihatannya memang menantang tetapi terkadang kita jatuh pada pendidikan nilai dan moral, walaupun keduanya tidak bertentangan dengan nilai-nilai agama.

Selain itu, pelajaran agama mungkin juga pelajaran-pelajaran lainnya, seperti yang kita ajarkan sekarang sebagian besar hanya bergerak dalam ranah kognitif saja yaitu kemampuan untuk mengingat kembali defenisi, menjelaskan pengertian, mengevaluasi suatu peristiwa dan sedikit sekali dalam ranah afektif seperti menghargai, menerima tanggung jawab, menunjukkan ketekunan, mempertahankan kebiasaan yang baik. Selain itu, ranah interaktif sangat jarang kita kembangkan, seperti kebiasaan berprilaku yang baik dalam pergaulan, bagaimana berdoa yang baik. Pada hal ranah afektif dan interaktif sangat penting ditanamkan sejak dini bagi anak-anak SD agar kelak mereka bisa bersikap baik, sopan, menghargai, bertanggung jawab, tekun, solider terhadap sesamanya. Ranah-ranah tersebut tidak maksimal kita kembangkan karena waktu mengajar sangat terbatas, mengejar bahan (takut ketinggalan bahan), anak yang belum terbiasa. Salah satu jalan keluarnya mempraktekannya secara langsung dalam sekolah atau kelas, misalnya untuk melatih siswa bersikap jujur, di dalam kelas dibuatlah “kantin kejujuran”. Mungkin ada cara lain yang lebih efektif selain contoh di atas tetapi apapun cara itu sangat berguna bagi siswa agar mereka mau bersikap jujur terhadap teman dan guru mereka.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


  • Yugo: Wuihhh...wuihh.....Berat berat Boooo..artikelnyaaaaa... artikel nya Btw nulis ndiri nehh ???? wah kayanya saya agak sedikit merinding nehh dengernya
  • wulan: menarik pembahasan tentang anak usia dini, tapi sebagai pengajar di PAUD sering dituntut oleh orang tua atau wali murid. Mereka ingin anak mereka bisa
  • edi kurniawan: komandan,. aku pengen bimbingan ya dan...............
%d blogger menyukai ini: