mEry’S bLo9

Etika Sains Dalam Riset Dan Pendidikan Tinggi Di Indonesia

Posted on: 21 April 2009

Melihat perkembangan Indonesia saat ini, baik dari aspek ekonomi, pendidikan, sosial dan politik sangatlah memprihatinkan. Kekurangan dan ketinggalan negara kita dibandingkan dengan negara lain dari hampir disemua aspek yang disebutkan di atas dapat dirasakan, terutama oleh intelektual Indonesia yang tinggal di luar negeri, yang relatif dapat melihat dengan lebih jelas karena berada di “luar orbit”. Indikator-indikator yang terukur, seperti ekonomi, telah menunjukkan hal ini, sedangkan indikator-indikator yang susah diukur dapat kita bandingkan selama kita berada di Indonesia dan di luar negeri. Banyak pendapat yang menyoroti penyebab hal ini. Salah satunya adalah rendahnya mutu pendidikan. Sebagai orang yang telah menggeluti dunia penelitian dalam bidang sains, saya dapat merasakan bahwa dalam ilmu pengetahuan terdapat aspek-aspek etika yang kalau diterapkan dapat membentuk pribadi-pribadi yang jujur, disiplin, bertanggung jawab dan sportif. Saya berpikir bahwa dengan mengetahui aspek etika dalam sains, dan mengajarkannya kepada mahasiswa dapat membantu membentuk kepribadian yang baik. Apa yang saya rasakan selama menempuh pendidikan di Indonesia adalah bahwa aspek ‘pendidikan’ (etika) kurang diperhatikan. Dosen-dosen lebih cenderung hanya memberikan knowledge saja kepada para mahasiswanya, yang dapat kita sebut sebagai ‘pengajaran’. Aspek ‘pendidikan’ yang saya maksudkan adalah termasuk pembentukan sikap dan kepribadian. Hal ini penting karena saya berpendapat bahwa institusi pendidikan tinggi adalah benteng terakhir yang seharusnya bertahan dalam menghadapi krisis moral di Indonesia.

Etika sains, riset dan pendidikan

Sains, ilmuwan, riset dan pendidikan merupakan hal yang sangat berkaitan erat. Saya setuju dengan pendapat yang mengatakan bahwa riset dan mengajar merupakan hal yang bersifat perkalian bukan pertambahan, salah satu sifat utama yang melekat kepada seseorang yang digelari ilmuwan Ini berarti bahwa seseorang akan nol sebagai ilmuwan jika tidak melakukan riset. Dan juga berarti akan nol sebagai ilmuwan jika tidak mengajar.

Berdasarkan hal ini, tulisan ini mencoba memberikan gambaran pentingnya etika sains dan manfaatnya dalam pendidikan.

Sebelum kita masuk ke dalam permasalahan: apakah aspek etika sains dapat membentuk pribadi yang jujur, disiplin, betanggung jawab dan sportif? Ada baiknya kita mengetahui apa itu sains dan etika. Cara pandang terhadap sains bisa bermacam-macam tergantung bagaimana kita mendefinisikan sains tersebut. Tapi ada baiknya, sesuai dengan tujuan tulisan ini, definisi dari sains diambil dari Oxford English Dictionary: “A branch of study which is concerned with a connected body of demonstrated truths, orwith observed facts systematically classified and more or less colligated by being brought under general laws, and which includes trustworthy methods for the discovery of new truth within its own domain”. Apa itu etika? Webster’s New Collegiate Dictionary mendefinikannya sebagai berikut: “1 …the discipline dealing with what is good and bad and with moral duty and obligation 2 a: a set of moral principles and values b: a theory or system of moralvalues c: the principles of conduct governing an individual or a group.”

Dari definisi-definisi di atas kelihatan dengan jelas bahwa sains adalah alat untuk mencari kebenaran. Dan dapat disadari untuk mencari kebenaran kita perlu strategi yang beretika. Strategi disini adalah metode ilmiah. Bagaimanapun banyak terjadi pelanggaran etika dalam penelitian saintifik, yang disebut sebagai penipuan saintifik (scientific fraud).

Penipuan saintifik

Penipuan saintifik (scientific fraud) didefinisikan sebagai usaha untuk memanipulasi fakta-fakta atau menerbitkan hasil kerja orang lain secara sengaja,. Bagaimanapun, definisi penipuan saintifik tidak selalu jelas. Salah satu aspek dari penipuan saintifik adalah memanipulasi dan mengubah data. Pada tahun 1830, matematikawan dari Inggris bernama Charles Babbage menerangkan teknik manipulasi data. Di dalamnya termasuk trimming (menghapus data yang tidak cocok dengan hasil yang diharapkan) dan cooking (memilih data yang hanya cocok dengan hasil yang diharapkan sehingga membuat data lebih meyakinkan). Sains yang ideal adalah bahwa para ilmuwan seharusnya objektif dan melaporkan semua hasil pengamatan secara lengkap dan jujur. Bagaimanapun, ini tidak selalu ditemui dalam laporan-laporan ilmiah.

Sebagai ilustrasi, tiga kasus di bawah ini dapat memberikan gambaran bagaimana etika sains dijunjung tinggi dalam dunia ilmiah:

Kasus pertama

Faktor yang merumitkan pendeteksian penipuan saintifik adalah karena begitu banyaknya publikasi-publikasi yang diterbitkan setiap tahun di dunia. Lebih daripada 40,000 jurnal dan ratusan ribu artikel ilmiah setiap tahun telah diterbitkan Sangatlah susah untuk meneliti apakah sebuah artikel mengandung penipuan atau tidak, walaupun paper tersebut telah dipublikasikan melalui penjurian (reviewing process). Salah satu kasus yang terkuak kepermukaan adalah kasus Elias A. K. Alsabti pada akhir 1970 dan awal 1980. Alsabti adalah seorang warganegara Irak, memperoleh sarjana kedokteran di Irak dan datang ke Amerika Serikat pada 1977 untuk bekerja dalam bidang immunologi di Temple University di Philadelphia, dan dilanjutkan di beberapa buah institut. Alsabti didapati terlibat dalam penipuan saintifik. Dalam sebuah kasus penipuan, rekan kerjanya menemukan bahwa dia telah mengubah data dalam sebuah publikasi ilmiah. Dalam beberapa contoh yang lain, Alsabti melakukan perbuatan plagiat, mengambil data dari jurnal, dan mempublikasikannya lagi dalam jurnal yang lain

Dalam beberapa kasus yang lain, plagiat yang dilakukan oleh Alsabti dengan mudah dapat ditemukan karena kecerobohan dia dalam menghilangkan tanda-tanda bahwa data tersebut telah diambil dari artikel orang lain.  Sebelum kasus ini ditemukan Alsabti tealah memperoleh posisi di enam buah institut yang berbeda dan mendapatkan izin untuk membuka praktek kedokteran di dua negara bagian di Amerika Serikat. Kasus ini telah dipublikasikan di Nature, the British Medical Journal dan disebuah buku yang berjudul Stealing Into Print oleh Marcel C. Lafollette. Kasus ini ditutup setelah Alsabti ditemukan tewas kecelakaan mobil pada tahun 1991.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


  • Yugo: Wuihhh...wuihh.....Berat berat Boooo..artikelnyaaaaa... artikel nya Btw nulis ndiri nehh ???? wah kayanya saya agak sedikit merinding nehh dengernya
  • wulan: menarik pembahasan tentang anak usia dini, tapi sebagai pengajar di PAUD sering dituntut oleh orang tua atau wali murid. Mereka ingin anak mereka bisa
  • edi kurniawan: komandan,. aku pengen bimbingan ya dan...............
%d blogger menyukai ini: