mEry’S bLo9

Pendidikan Profesi bagi Sarjana Peternakan

Posted on: 21 April 2009

Perguruan Tinggi yang selama ini telah mengembangkan fasilitasnya guna mendukung penyelenggaraan empat program studi strata satu [PS S1] bidang Peternakan, disibukkan kembali untuk menyesuaikan dengan regulasi dari Ditjen Dikti tersebut. Dengan kata lain, fasilitas yang telah dimekarkan guna mendukung penyelenggaraan PS S1 Nutrisi & Makanan Ternak, Produksi Ternak, Sosial Ekonomi Peternakan, dan Teknologi Hasil Ternak, mau tidak mau harus “diciutkan” kembali hanya untuk mendukung penyelenggaraan PS S1 Peternakan. Pengembangan fasilitas sudah barang tentu telah banyak memanfaatkan dana, biaya dan tenaga. Manajemen pada sebuah lembaga pendidikan seharusnya berazaskan efisiensi dan efektivitas. Di lain pihak, perlunya pendidikan profesi bidang peternakan sudah lama diwacanakan tetapi sampai sekarang belum pernah terealisasikan. Oleh karena itu, saat ini merupakan momentum yang tepat untuk mengangkat kembali wacana tersebut, dengan memanfaatkan fasilitas yang telah dikembangkan selama ini. Regulasi Pendidikan Sarjana Peternakan Perubahan signifikan dalam rancangan Pendidikan Tinggi bidang Peternakan di Indonesia terjadi dengan terbitnya Surat Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan No. 0311/U/1994 tentang Kurikulum yang Berlaku secara Nasional bagi Program Sarjana Pertanian. Sesuai Kepmendikbud tersebut Program Pendidikan Sarjana Peternakan diselenggarakan sesuai empat Kurikulum PS S1 : Nutrisi & Makanan Ternak; Produksi Ternak; Sosial Ekonomi Peternakan; dan Teknologi Hasil Ternak. Surat Keputusan Mendikbud tersebut mencantumkan daftar mata kuliah pada masing-masing PS S1, sehingga SK Mendikbud tersebut lazim dikenal sebagai Kurikulum Nasional 1994 bagi Pendidikan Sarjana Peternakan. Implementasi Kurikulum Nasional 1994 banyak menuai masukan dan ataupun kritikan dari para pemangku kepentingan [stake holder]. Bahkan Forum Komunikasi Pimpinan Pendidikan Tinggi Peternakan Indonesia [FKPPTPI] beberapa kali mengadakan pertemuan [Kongres atau Munas] guna mengadakan evaluasi terhadap implementasi Kurikulum Nasional 1994. Meskipun dalam Kongres dan Munas FKPPTPI terjadi perdebatan pro dan kontra, namun pada tahun 2004 Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi menerbitkan Surat Himbauan No. 3163/D/T/2004 untuk penyatuan PS S1 Pendidikan Sarjana Peternakan. Akhirnya terbit Surat Keputusan Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi No. 163/DIKTI/Kep/2007 tanggal 27 November 2007 yang “memaksa” untuk menyatukan empat PS S1 Pendidikan Sarjana Peternakan menjadi satu PS S1, yaitu PS S1 Peternakan. Kurikulum Nasional 1994 berupaya untuk mengembangkan Pendidikan Sarjana Peternakan yang mengarah pada spesialisasi pada bidang-bidang Nutrisi & Makanan Ternak, Produksi Ternak, Sosial Ekonomi Peternakan, dan Teknologi Hasil Ternak. Sebagian besar stake holder, terutama praktisi yang memanfaatkan produk lulusan perguruan tinggi peternakan [sarjana peternakan], menilai bahwa pengarahan spesialisasi ini belum layak diterapkan pada tataran Pendidikan Sarjana. Para praktisi berharap bahwa lulusan jenjang strata satu seharusnya mengetahui lebih banyak aspek-aspek dalam bidang peternakan tetapi tidak terlalu mendalam. Dengan adanya spesialisasi dalam Pendidikan Sarjana Peternakan bahkan akan menyempitkan peluang dalam mencari kerja bagi lulusannya. Sesuai fakta kebutuhan pasar kerja di Indonesia masih sangat sedikit yang membutuhkan keahlian spesifik dalam bidang peternakan. Bahkan Pendidikan Tinggi bidang Peternakan di negara-negara maju sampai sekarang belum pernah mencoba untuk pengarahan spesialisasi pada jenjang pendidikan “bachelor”. Pada tahun akademik 2008 sebagian besar perguruan tinggi sudah menerima mahasiswa dalam rancangan PS S1 Peternakan. Sambil menghabiskan mahasiswa lama, yang masih kuliah dalam kerangka Kurikulum Nasional 1994, tentunya perguruan tinggi penyelenggara Pendidikan Sarjana Peternakan juga berbenah diri termasuk menyesuaikan [baca : menciutkan] organisasi yang sudah dimekarkan selama ini. Seiring berbenah diri dengan adanya kecenderungan penurunan minat lulusan SMA untuk memilih Pendidikan Sarjana Peternakan. Pengelolaan suatu lembaga pendidikan seharusnya berazaskan efisiensi dan efektivitas, sebagaimana lembaga-lembaga yang lainnya. Pendidikan profesi bagi sarjana peternakan sampai sekarang belum terwujudkan. Hal inilah yang diduga sebagai salah satu penyebab penurunan minat lulusan SMA untuk memilih Pendidikan Sarjana Peternakan. Banyak sekali lulusan SMA yang bertanya, setelah lulus sebagai sarjana peternakan akan menjadi apa? Akan bekerja dimana?. Dengan diwujudkannya pendidikan profesi, paling tidak akan menjelaskan tentang masa depan lulusan SMA setelah menempuh Program Sarjana Peternakan. Oleh karena itu, saat ini merupakan momentum yang tepat untuk mewacanakan pendidikan profesi bagi sarjana peternakan, seiring dengan memanfaatkan fasilitas yang sudah dikembangkan selama ini. Pendidikan Profesi Pendidikan profesi bagi sarjana peternakan sudah lama diwacanakan. Beberapa pertemuan sudah dilakukan untuk membahas perlunya pendidikan profesi, baik yang diprakarsai oleh Ikatan Sarjana Peternakan Indonesia [ISPI] atau komponen stake holder Pendidikan Sarjana Pendidikan Peternakan lainnya, namun belum berhasil bersepakat tentang bidang profesi yang cocok bagi sarjana peternakan. Seperti kita maklumi, sebuah usaha peternakan akan selalu berkaitan dengan aspek-aspek breeding, feeding dan management. Dengan demikian aspek-aspek tersebut dapat digunakan dalam mempertimbangkan bidang profesi yang cocok bagi sarjana peternakan. Sebagai ilustrasi bahasan berikut menyajikan peran ahli genetika ternak dan ahli nutrisi ternak dalam pengembangan kinerja broiler modern. Dalam rangka memberikan komentar atas tulisan Dr. G. Havenstein pada sebuah jurnal internasional terkemuka yang berjudul “Genetics accounts for approximately 80% of the increased performance of modern broilers”, Dr. William A. Dudley-Cash menulis tentang peran ahli nutrisi dalam pengembangan kinerja broiler modern [World Poultry 12 (8), 1996]. Melalui serangkaian pengamatan, menggunakan strain boiler kuno [tahun 1957] dan strain broiler modern [1991] yang masing-masing mendapatkan ransum kuno dan ransum modern, Dr. Havenstein menyimpulkan bahwa para ahli genetika memiliki peran sebesar 80% dalam mengembangkan kinerja strain broiler modern. Sisa peran dalam pengembangan kinerja broiler tersebut dilakukan oleh para ahli nutrisi. Namun, simpulan tersebut mendapat komentar dari Dr. Dudley-Cash, kedua bidang keahlian tersebut merupakan tandem yang serasi dalam mengembangkan broiler modern. Ahli genetika diibaratkan sebagai mekanik mobil balap dan ahli nutrisi diibaratkan sebagai pembalapnya. Peran mekanik adalah sebagai perancang mobil balap yang bisa dipacu dengan kecepatan setinggi mungkin sesuai yang dikehendaki. Peran seorang pembalap adalah untuk memenangkan kompetisi dalam arena balap. Kemenangan dalam kompetisi arena balap seringkali diidentikkan dengan kecepatan pacu mobil yang setinggi-tingginya. Padahal apabila lintasan balap dalam keadaan licin akibat hujan, seorang pembalap seharusnya mengurangi kecepatan pacu mobilnya supaya tidak tergelincir. Demikian pula, apabila suhu lingkungan lintasan menjadi sangat panas, seorang pembalap seharusnya mengurangi kecepatan pacu mobilnya agar mesin mobil tidak menjadi panas secara berlebihan. Pada suatu Grand Prix bulan April di Australia, Villeneuve, yang pada saat itu sebagai pendatang baru dalam arena balap F1, secara jelas akan memenangkan balapan dengan mudah. Namun pada 5 putaran akhir, terjadi suatu kerusakan pada mesin mobil balapnya, dan tidak akan mencapai finish apabila mobilnya dipacu dengan kecepatan yang maksimum. Villeneuve memutuskan untuk memperlambat pacu mobilnya dan akhirnya dia menempati urutan kedua. Urutan kedua merupakan posisi yang lebih baik daripada apabila mesin mobilnya bermasalah sehingga tidak dapat mencapai finish. Pada saat mobil melaju di arena balap, tidak ada seorang mekanik-pun yang akan mampu memperbaikinya. Hanya pembalap-lah yang mampu mengendalikan mobilnya untuk menyesuaikan perubahan kondisi dan memaksimalkan peluang untuk meraih kemenangan. Ahli nutrisi berperan dalam penurunan biaya produksi atau peningkatan keuntungan, bukan berperan dalam peningkatan kinerja broiler, sedangkan ahli genetika menyiapkan potensi kinerja broiler yang maksimum. Bidang nutrisi memanfaatkan kinerja yang maksimum dalam rangka mencapai keuntungan yang maksimum. Beberapa puluh tahun yang lalu seorang ahli nutrisi mengkreasikan hanya satu macam ransum yang mampu mendukung kinerja broiler secara maksimum. Saat ini seorang ahli nutrisi dapat mengkreasikan sekian ratus macam ransum yang berasal dari kombinasi sekian ratus bahan pakan, yang semuanya dapat mendukung kinerja broiler secara maksimum, tetapi hanya satu macam ransum yang mampu mendukung kinerja broiler secara maksimum dengan biaya yang minimum. Kemajuan dalam teknik penyusunan ransum tersebut sebagai hasil dari pengembangan ilmu nutrisi ternak selama ini. Peran lain dari seorang ahli nutrisi adalah mengatur tingkat kinerja broiler sesuai dengan permintaan yang ada selama kurun waktu tertentu. Sebagai contoh apabila di pasar terjadi pasokan daging ayam yang berlebihan, seorang ahli nutrisi harus dapat mengendalikan [menurunkan] kinerja broiler. Dengan penurunan pertambahan bobot badan broiler, daging broiler yang beredar di pasar akan menjadi lebih sedikit, meskipun selama kurun waktu tertentu yang terbatas. Sebaliknya apabila pasar membutuhkan peningkatan pasokan daging, atau apabila terjadi penurunan populasi ayam akibat berjangkitnya suatu penyakit, seorang ahli nutrisi dapat mengkreasikan suatu ransum yang mampu mendukung kinerja broiler secara maksimum. Harga ransum yang mampu mendukung kinerja broiler secara maksimum biasanya tidak murah, tetapi peningkatan produksi daging akan segera dapat memenuhi kebutuhan konsumen. Penerapan kaidah-kaidah genetika terbukti sangat efektif dalam mengembangkan kinerja broiler modern. Penerapan kaidah-kaidah genetika biasanya berdampak jangka panjang, dan kapabilitas genetik dari boiler [layer dan kalkun] tidak dapat dirubah sampai terjadinya perubahan pada flock induknya. Di lain pihak, ahli nutrisi mampu mempertahankan potensi genetik dari kinerja broiler yang sama selama setahun meskipun dengan ransum yang berbeda-beda akibat terbatasnya ketersediaan bahan-bahan pakan penyusun ransum. Bahasan diatas mempertegas peran ahli genetika dan ahli nutrisi dalam rangka mengembangkan kinerja strain broiler modern, meskipun terjadi silang pendapat tentang tingkat peran diantara kedua keahlian tersebut. Peran dari kedua keahlian pada usaha peternakan broiler tentunya tidak jauh berbeda [bahkan sama] dengan komoditas ternak lainnya. Uraian singkat tentang dua bidang keahlian dalam usaha peternakan tersebut tentunya dapat digunakan dalam mempertimbangkan dan membahas bidang-bidang profesi yang cocok bagi sarjana peternakan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


  • Yugo: Wuihhh...wuihh.....Berat berat Boooo..artikelnyaaaaa... artikel nya Btw nulis ndiri nehh ???? wah kayanya saya agak sedikit merinding nehh dengernya
  • wulan: menarik pembahasan tentang anak usia dini, tapi sebagai pengajar di PAUD sering dituntut oleh orang tua atau wali murid. Mereka ingin anak mereka bisa
  • edi kurniawan: komandan,. aku pengen bimbingan ya dan...............
%d blogger menyukai ini: