mEry’S bLo9

Pendidikan khusus bagi anak yang terpinggirkan

Posted on: 24 Mei 2009

MENGENAKAN pakaian kumal dan kumuh, sekitar 10 anak Sekolah Dasar Khusus Pasar Lama Kota Banjarmasin dari kelas I sampai kelas V mengikuti pelajaran di satu ruangan. Rambut mereka terlihat awut-awutan pertanda jarang keramas.

Tidak ada yang mengenakan seragam di sekolah itu. Semua anak bebas mengenakan pakaian yang mereka miliki. Masalahnya, anak-anak di sekolah tersebut tidak memiliki pakaian bersih dan layak pakai.

Mereka hanya menggunakan pakaian harian yang biasa dipakai untuk bermain, bekerja, dan tidur malam. Sebagian anak di kelas tersebut memang “sudah bekerja”, ada yang mencari kardus di pasar dan ada pula yang menjadi pengupas bawang, bahkan ada yang menjadi anak jalanan.

JUMLAH siswa yang hari itu masuk sekitar 10 anak terdiri dari kelas I hingga kelas V. Di pekan pertama tahun ajaran baru dan di saat semua anak “dimanja” dalam rangka memperingati Hari Anak, di kelas tersebut tak ada yang sempat bermanja-manja, semua terlihat kusam, tak ada buku baru, tas baru, apalagi baju baru.

Hari itu tahun ajaran baru, semua berlangsung apa adanya, tidak berbeda dengan hari-hari sebelumnya. “Yang masuk sedikit, memang seperti ini keadaannya karena mereka banyak yang bekerja,” kata M Husaini, guru yang mengajar di kelas tersebut.

Husaini mengatakan, murid kelas I hingga kelas V jumlahnya mencapai 30 anak. Walaupun anak-anak banyak yang tidur di pasar dan di sekolah tersebut, namun karena mayoritas adalah gelandangan, anak jalanan, dan anak dari keluarga tak mampu, mereka banyak yang tidak masuk karena harus kerja.

“Kebanyakan anak-anak itu menjadi tulang punggung ekonomi keluarganya. Karena itu, banyak yang sering tidak masuk karena harus bekerja. Anak- anak biasanya masuk sekolah jika mereka dijanjikan akan mendapat hadiah,” kata Husaini.

Bangunan sekolah khusus itu berada di Lantai II Pasar Lama Banjarmasin. Lokasinya di tengah-tengah kota. Namun demikian belum tentu kepala dinas pendidikan, wali kota, atau gubernur mengetahui sekolah itu.

“Ini adalah sekolah yang terlupakan,” kata Husaini. Anak-anak di kelas itu tampak akrab dengan guru yang kini seperti orangtua asuh mereka.

SD Khusus Pasar Lama yang resminya bernama Sekolah Khusus Filial SD Negeri I Mawar Banjarmasin Tengah itu berdiri sejak tahun 1988. “Yang memprakarsai adalah Kepala Dinas Pendidikan Kalimantan Selatan almarhum Drs Samsi,” kata Husaini.

Sekolah khusus itu membawa misi mendidik anak-anak jalanan yang rata- rata tunawisma di sekitar pasar itu. Misi lain adalah bagaimana mengerem munculnya preman-preman kecil yang kelak akan menjadi preman besar di pasar tersebut.

“Dulu di pasar ini banyak premannya, mulai preman kecil sampai preman besar, mereka biasa mencuri dan mencopet,” kata Husaini. Kini setelah sekolah tersebut berdiri angka premanisme di pasar tersebut turun drastis.

“Coba tanya ke toko-toko apakah mereka sekarang masih sering menggergaji pintu karena kunci pintunya dirusak preman? Sekarang sudah tidak lagi, pendidikan ini menekankan perubahan perilaku dan akhlak yang baik,” katanya.

Husaini berprinsip misi mendidik anak-anak adalah mengubah sikap kerja dari “etos kerja mencuri” menjadi “etos kerja mencari”. “Sudah banyak yang berhenti mencuri,” kata Husaini.

Seorang anak kelas V, Jumbri, saat ini mencari kardus untuk memenuhi kebutuhan keluarganya. “Satu hari dapat sekitar Rp 10.000,” katanya.

ANAK-anak lain kini juga bekerja setiap hari mencari kardus atau mengupas kulit bawang merah. Ada juga yang mencari bawang merah jatuh di pasar, dikumpulkan, kemudian dijual.

Hidayatullah, siswa kelas V lainnya, mengatakan, dulu banyak kawan-kawannya yang suka berbohong dan berprofesi sebagai pencopet. “Sekarang mereka banyak yang berhenti, tak ada lagi yang seperti itu,” katanya.

Di tengah gegap gempita komersialisasi pendidikan, sekolah khusus itu tetap berjalan walau terengah-engah. “Saya hanya digaji Rp 100.000 per bulan. Kalau bukan karena panggilan moral, saya tidak akan mengajar di sini,” kata Husaini, pensiunan guru di

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


  • Yugo: Wuihhh...wuihh.....Berat berat Boooo..artikelnyaaaaa... artikel nya Btw nulis ndiri nehh ???? wah kayanya saya agak sedikit merinding nehh dengernya
  • wulan: menarik pembahasan tentang anak usia dini, tapi sebagai pengajar di PAUD sering dituntut oleh orang tua atau wali murid. Mereka ingin anak mereka bisa
  • edi kurniawan: komandan,. aku pengen bimbingan ya dan...............
%d blogger menyukai ini: