mEry’S bLo9

pengangguran dan kekurangan pendidikan

Posted on: 24 Mei 2009

Dalam UU Sistem Pendidikan Nasional dikemukakan bahwa fungsi pendidikan nasional adalah mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.
Ketika seorang manusia dilahirkan ke bumi kemudian tumbuh dan berkembang, selama hidupnya dia memiliki banyak potensi. Adalah tugas pendidikan untuk mengembangkannya sehingga setiap warga negara menjadi berguna bagi diri sendiri, masyarakat, bangsa, dan negara. Saat ini bangsa Indonesia memiliki berbagai permasalahan termasuk pengangguran. Pengangguran dianggap menjadi salah satu beban yang harus ditanggung bangsa. Mengurangi pengangguran berarti mengurangi beban bangsa dan menghindari semakin rumitnya masalah. Lalu bagaimana dengan banyaknya sarjana yang menganggur (tahun 2007 mencapai sekitar 2 juta) ?
Jawaban terletak pada sistem pendidikan kita. Kekurangan yang ada padanya adalah pendidikan kita menghasilkan banyak orang yang siap untuk menjadi buruh. Sejak awal kita memasuki dunia pendidikan formal, bahkan sebelumnya, baik dalam pendidikan formal di sekolah dan perguruan tinggi maupun dalam pendidikan informal di masyarakat dan keluarga mental kita dirancang untuk mempersiapkan diri menjadi pekerja. Salahsatu akibatnya adalah sebagaimana yang dikemukakan Garin Nugroho (Buku Merajut Kembali Ke-Indonesia-an Kita karya Sultan Hamengku Buwono X 2007) bahwa kita telah melupakan agrikultur.
Pendidikan telah menjadikan kita, termasuk saya, menjadi orang yang selalu berharap hanya pada gaji. Sampai-sampai kita lupa bahwa kita bisa kaya dari pertanian, dari kelautan, dan dari apa saja di bumi pertiwi ini. Bagaimana dengan budaya pertanian kita, bagaimana dengan budaya maritim kita, yang telah terbukti mampu mempertahankan Sriwijaya dan Majapahit ratusan tahun bahkan sampai 1000 tahun. Itu karena kekurangan pendidikan nasional kita yaitu belum banyak mendidik pemuda untuk bertindak selain sebagai buruh dan untuk menyadari kekayaan dan budaya negeri sendiri.
Sudah saatnya bangsa ini, pemerintah dan masyarakat, memasukkan nilai-nilai budaya agraris-maritim serta Trilogi Kebangsaan Bung Karno (kesadaran berbangsa, keinginan berbangsa, dan tindakan berbangsa) ke dalam pendidikan kita baik formal, nonformal, maupun informal. Jalur pendidikan yang mudah dikontrol dan diamati adalah pendidikan formal (sekolah dan perguruan) dan pendidikan nonformal (kursus, kepramukaan, dsb). Dari sanalah pemerintah bisa memulai menanamkan pembentukan karakter dan budaya agar lulusan pendidikan pada khususnya dan pemuda pada umumnya dapat dengan bangga berkata, “Aku berguna karena aku tidak menganggur”.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


  • Yugo: Wuihhh...wuihh.....Berat berat Boooo..artikelnyaaaaa... artikel nya Btw nulis ndiri nehh ???? wah kayanya saya agak sedikit merinding nehh dengernya
  • wulan: menarik pembahasan tentang anak usia dini, tapi sebagai pengajar di PAUD sering dituntut oleh orang tua atau wali murid. Mereka ingin anak mereka bisa
  • edi kurniawan: komandan,. aku pengen bimbingan ya dan...............
%d blogger menyukai ini: