mEry’S bLo9

Takut Gagal?

Posted on: 26 Mei 2009

Baru saja saya membaca iklan suatu lembaga pendidikan, mencuplik beberapa berita di harian Kompas. Berita yang pertama mengatakan 2000-4000 orang pengangguran baru tercipta di Indonesia setiap hari. Lebih lanjut Kompas memberitakan, diperkirakan di tahun 2009, Ada 116,5 juta orang (69% dari total penduduk) di Negeri ini Serbu Pasar Kerja! Mengerikan! Sarjana, Sarjana, Sarjana Jamannya si Doel, menjadi sarjana merupakan suatu kebanggaan yang luar biasa. Bagaimana dengan sekarang? Mau tahu berapa kebutuhan tenaga sarjana di Indonesia? 75.000 orang saja pertahunnya! Emang berapa jumlah lulusan sarjana? 3 juta sarjana baru setiap tahunnya. Jadi jangan heran, sayapun pernah punya driver yang sarjana, bahkan dari lulusan luar negeri. Kok bisa? “Daripada nganggur”, katanya. Anggap saja Anda adalah termasuk dari 75.000 sarjana yang “beruntung” mendapatkan job sarjana. Namun jangan protes jika penghasilan Anda akan mendapatkan “tekanan” alias pas-pasan. Jika tidak puas, monggo silakan keluar, wong masih tersisa 2,9 juta sarjana yang ngantri. Kompetisi pekerja akan semakin gila. Sudah hukum alam, jika supply berlebihan, harga akan banting-bantingan. Nah, rendahnya gaji di negara ini harusnya bukan salah siapa-siapa, tapi salah bersama. Hal itu disebabkan sedikitnya pertumbuhan usaha atau pengusaha di negeri ini. Seandainya saja pembaca sadar akan mendesaknnya “lowongan” pengusaha, lha mbok yuk jadi pejuang, keluar kerja dan bangun usaha. Khususnya bagi para sarjana dan lulusan sekolah kejuruan, dibuka lowongan “Wajib Usaha” (seperti wajib militer jaman perang). Kalo bangkrut gimana? Ya tinggal bangun lagi, wong dulu juga gak punya duit pas lahir. Apa yang ditakuti? Apalagi sekarang banyak sekali pendidikan informal yang mengajarkan “ilmu-ilmu praktis” mulai usaha, bangkit dari kebangkrutan ataupun paket mengembangkan usaha. Layaknya pasukan khusus yang dilatih dan diperbekali dengan senjata, tak perlu takut menghadapi musuh. Katakanlah Anda gagal terus dalam usaha dan ingin balik mencari kerja, apakah ditolak karena bekas pengusaha? Justru mentalitas pengusaha (Intrapreneurship) itu yang sekarang dibutuhkan, dibanding dengan karyawan yang “bermental” pekerja. Nah tuh, apalagi resiko jadi pengusaha? Paling ditakuti adalah saat kaya kemudian lupa diri saja. Mudah-mudahan para orang tua mulai sadar, bahwa “mempersiapkan anaknya untuk menjadi pekerja”, sama dengan menjerumuskan anaknya ke “tragedi lorong maut Mina”, berdesak-desakan kehabisan nafas. Berita yang marak akhir-akhir ini, bahkan Presiden SBY juga mengatakan,”Tren sekolah-sekolah sekarang adalah menciptakan Young Entrepreneur”. Daripada saling menuding dan memaki pemerintah dalam krisis ini, yuk kita menjadi bagian dari solusi krisis ini. Jadilah PEJUANG, jadilah PENGUSAHA! Jika ada yang perlu ditakuti, Takutlah “tidak punya KEBERANIAN”. Jika Anda mau mencaci, cacilah diri sendiri karena tidak berkontribusi.

1 Response to "Takut Gagal?"

Wuihhh…wuihh…..Berat berat Boooo..artikelnyaaaaa…
artikel nya Btw nulis ndiri nehh ????
wah kayanya saya agak sedikit merinding nehh dengernya
tapi yang jelas kita@ neh ditakdirkan lahir ke bumi dengan perbedaan masing-masing yang sudah ditulis and kering pula tintanya tuh sekarang…jadi kaga bisa diapuss.
Back to article!@#$%….so tetep semangat tok belajar, Bekerja dan Beramal.

Sorry kalo ngk nyambung tapi mudah@ han jadi bahan Pengingat buat pembaca….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


  • Yugo: Wuihhh...wuihh.....Berat berat Boooo..artikelnyaaaaa... artikel nya Btw nulis ndiri nehh ???? wah kayanya saya agak sedikit merinding nehh dengernya
  • wulan: menarik pembahasan tentang anak usia dini, tapi sebagai pengajar di PAUD sering dituntut oleh orang tua atau wali murid. Mereka ingin anak mereka bisa
  • edi kurniawan: komandan,. aku pengen bimbingan ya dan...............
%d blogger menyukai ini: